Arikel 4

MEMBACA INDONESIA DARI DADAHA


Acep Zamzam Noor


DELAPAN pelukis dari berbagai daerah di Jawa Barat memamerkan karya-karyanya di Gedung Kesenian Tasikmalaya (GKT), 12 sampai 19 Juli 2003. Mereka adalah Aan Munandar (Subang), Agus Djatnika, Edo Sahir, Dodo Abdullah (Bandung), Enceng A.G., Gus Bachtiar (Garut), Rahim dan Hikmat Hidayat (Tasikmalaya). Pameran yang mengusung tema Alam, Benda, Manusia ini menampilkan beragam ekspresi dari masing-masing pelukis, yang hampir semuanya menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan di mana meraka berada. Ada yang mengungkapkannya secara langsung, namun ada juga yang disembunyikan.


Kedelapan pelukis ini semuanya menampilkan karya dua dimensi di atas kanvas dengan ukuran yang rata-rata sedang. Tema yang disodorkan Komunitas Azan sebagai penyelenggara, memang terbilang luas dan membuka peluang pada para pelukis untuk mengeksplorasinya lebih jauh lagi, baik dalam pembacaan atas tema maupun dalam cara pengungkapannya lewat karya. Aan Munandar yang sehari-harinya tinggal di Subang menampilkan lima buah lukisan yang kesemuanya bernada kelam. Dalam “Dunia Oral” ia menggambarkan penggalan-penggalan wajah dengan mulut menganga, berbaur dengan grafiti yang acak. Meski ikon-ikon yang ditampilkannya ada yang bisa dikenali namun secara keseluruhan lebur dalam abstraksi: garis, bidang, tekstur dan warna. Begitu juga dalam lukisan “Do Not End” yang abstrak karena hanya menampilkan garis dan bidang-bidang warna saja. Pada lukisan lain Aan menggunakan kolase bendera merah putih, foto Amien Rais dan sobekan koran.


Agus Djatnika nampak lebih santai dan ceria. Lukisan-lukisannya mengambil obyek figur dengan pose-pose keseharian. “Becanda”, “Dialog”, Mandi Bareng”, “Termenung”, dan “Tiga Pesolek” adalah judul-judul lukisannya yang berangkat dari pose-pose obyeknya, yang kebanyakan figur wanita. Agus mengangkat dunia keseharian dengan pelukisan yang mengalir. Ia menggunakan sapuan lebar, warna-warna cerah dan cat yang lebih banyak unsur airnya. Teknik melukis aquarel yang belakangan ini dikembangkannya di kanvas konon berangkat dari latihan-latihan menggambarnya di atas kertas. Dengan teknik ini Agus menjadi sangat produktif dan relatif cepat dalam menyelesaikan sebuah lukisan.


Edo Sahir dari Bandung juga banyak menampilkan obyek-obyek figur manusia. Namun lukisan-lukisan Edo lebih ekspresif dan liar. Figur-figurnya tampil dalam pose-pose yang aneh dan ganjil, seperti mengerang, menerjang atau terjengkang. Figur-figurnya pun melebur satu sama lain, dan menyerupai figur binatang. Edo banyak menggunakan sapuan-sapuan kecil namun tebal, dengan menumpuk-numpuk warna cerah hingga menjadi kusam. “Liar”, “Terbanglah”, “Gunungan”, “Belantara” dan “Imoprovisasi” adalah judul-judul karyanya. Ia bercerita tentang karakter manusia yang tidak ubahnya seperti binatang.


Enceng A.G. adalah pelukis Garut yang cukup menonjol. Lukisan-lukisannya mempunyai karakter yang kuat, meskipun pengungkapannya konvensional. Enceng banyak mengambil tema-tema kerakyatan dan tradisional, seperti ibu-ibu yang berjualan di pasar, ibu-ibu yang tengah membatik atau ibu-ibu yang sedang menumbuk padi di sudut kampung. Lukisan-lukisannya bersuasana masa lalu dan terkesan romantis. Meski konvensional, lukisan-lukisan Enceng nampak matang dan seimbang, baik warna, garis, bidang maupun tekstur.


Dodo Abdullah dikenal sebagai pelukis cat air yang piawai, ia banyak melukis atau membuat sketsa langsung di hadapan obyek seperti di pasar, di terminal atau di jalan raya. Namun belakangan ini terjadi pergeseran tema yang signifikan. Dodo kini memasuki wilayah kontekstual, dengan mengangkat masalah sosial dan politik. Pengungkapannya pun nampak lebih bebas. Dengan teknik mix-media, ia membagi kanvasnya menjadi fragmen-fragmen kecil yang sarat dengan ikon-ikon. Ada wajah Gandhi, ada potret Bush, ada lukisan Van Gogh, ada Semar, ada pantat Inul yang dipadu dengan lentera dan benda-benda tradisional serta grafiti. Judulnya pun sangat simbolis seperti “Glambling”, “Ora Et Labora”, “Fenomena 2003” , “Terima Kasih Van Gogh” atau “Dodo Dorotista” sebagai ungkapan kekaguman terhadap Inul Daratista.


Gus Bachtiar mengangkat tema-tema yang hampir sejalan dengan Dodo, namun dengan teknik yang berbeda. Ia menggunakan teknik drawing dengan media bolpoint dan pensil di atas kanvas. Dalam karya-karyanya Gus Bachtiar nampak intens dan telaten, terutama dalam menggarap detail dengan arsiran-arsirannya yang lembut. Seperti juga Dodo, ia membagi kanvasnya menjadi fragmen-fragmen kecil. Ada peta Republik Indonesia, ada bilik bambu, ada lentera, ada uang kertas, ada kalender, ada angka-angka, ada papan catur, ada juga jarum suntik. Sementara yang selalu menjadi sentral dari lukisannya adalah sosok lelaki yang tidak berdaya, terkulai, mengerang atau meringis. Judul-judulnya pun seram: “Awas Bahaya Narkoba”, “Awal Keterpurukan”, “Ketakberdayaan”, dan “Terjebak Kehidupan”.


Hikmat Hidayat dan Rahim adalah dua pelukis muda Tasikmalaya yang cukup menjanjikan. Seperti juga pelukis-pelukis muda di kota lain ia sangat tertarik dengan tema-tema yang kontekstual. Hikmat mengambil bentuk mainan anak-anak ular tangga untuk mengungkapkan kemaruknya kekuasaan di Indonesia, lukisannya ini diberi judul “Ular Tangga Kuasa”. Dalam lukisan-lukisan lain Hikmat mengambil bentuk-bentuk karikaturan dengan menampilkan ikon-ikon kontemporer seperti Presiden Bush, Superman, bendera Amerika, grafiti, dipadu dengan rajah dan kaligrafi yang tradisional.


Rahim nampak memiliki teknik yang cukup piawai. Lukisan-lukisannya menunjukan intensitas yang tinggi, dengan memadukan kemampuan melukis realis dan keterampilan berkolase. Seperti juga kebanyakan pelukis mutakhir, ia memenuhi kanvasnya dengan pragmen-pragmen. Salah satunya berisi wajah-wajah dalam kotak yang terbalut kain, yang satu sama lain saling berhubungan. Ada ruang yang ingin ditampilkan secara optikal, dengan memainkan gelap dan terang. Pada kanvas lain efek optikal ini ditampilkan dengan cara memainkan warna, tekstur dan kolase yang bergelombang. Rahim juga menuliskan sejumlah teks, baik yang bisa terbaca maupun tidak. Semuanya karyanya ini diberi judul “Relativity”, yang merupakan gambaran dari relatifnya ruang dan waktu, kalah dan menang, benar dan salah atau baik dan buruk.


Kedelapan pelukis dari berbagai daerah di Jawa Barat ini secara umum telah menunjukkan bagaimana kehidupan ini bisa dibaca dengan berbagai cara dan sudut pandang. Mereka membaca Alam, Benda, Manusia seperti membaca sebuah Indonesia dari dirinya masing-masing, dari daerahnya masing-masing. Di mata mereka Indonesia bisa abstrak, simbolis, romantis, santai, apa adanya, karikatural atau relatif.


***


Pembacaan terhadap Indonesia ini semakin menarik dengan digelarnya performance art pada saat penutupan pemeran, 19 Juli 2003. Performance art merupakan jenis kesenian baru yang banyak diminati seniman muda, terutama dari kalangan senirupa dan teater. Selain menampilkan Christiawan, seorang seniman kontemporer dari Bandung, juga memperkenalkan Kelompok Kelelawar, yang merupakan kelompok performance art dari Tasikmalaya. Christiawan bukan hanya tampil, tapi juga memberikan workshop tentang apa itu performance art. Karya-karya yang akan ditampilkan Kelompok Kelelawar dibahas dan diuji terlebih dahulu, baik konsep maupun teknik penampilannya. Hasilnya, adalah pembacaan yang beragam dan mengejutkan tentang Indonesia.


Wan Orlet, yang sehari-harinya adalah penarik becak yang mangkal di Simpang Lima ternyata mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Karyanya yang berjudul “Terapi” digelar di halaman parkir GKT. Dengan memakai kain lurik yang lusuh dan lehernya terikat tambang Wan Orlet berdiri di atas becak sambil menyanyikan tembang, lalu melemparkan pakaian seragam SD dan pakaiannya sendiri ke udara. Wan Orlet kemudian duduk di kursi sambil mempersilahkan penonton mengoleskan cat merah, kuning dan hijau ke sekujur tubuhnya. Setelah itu ia membawa bendera merah putih yang sudah koyak ke arah tiang bendera, sambil menggumamkan lagu Indonesia Raya ia menaiki tiang bendera itu. Namun bendera koyak itu hanya terpasang setengah tiang, dan Wan Orlet pun melorot jatuh ke tanah.


Masih di halaman parkir, Lucky Lukita yang bertampang seram memanjati tiang-tiang besi sambil berteriak-teriak mengusir hantu. Dari atap gedung kesenian hantu-hantu plastik meluncur ke arah Lucky, kemudian mereka berkelahi di atas kain hitam sambil terus berteriak-teriak. Lucky menanam salah satu hantu di tiang gedung, yang lainnya diikat ke motor besar dan kemudian diseret keliling lapangan. Lucky bermaksud meruwat gedung kesenian sebagai simbol peradaban dan mengusir hantu-hantu yang ada di dalamnya. Puncaknya, ia mengencingi salah satu hantu yang ditanam di tiang gedung. Lucky memberi judul karyanya “Roh Gentayangan Mencari Cinta”.


Irvan Mulyadie yang tampil berikutnya menggunakan panggung di dalam gedung. Dengan demikian karyanya pun berjarak dengan penonton. Irvan bertutur tentang gender, tentang lelaki dan perempuan, tentang hubungan seksual. Sebuah lukisan besar, di kiri kanannya terdapat kursi. Irvan menyalakan lilin, memanggil seorang lelaki dan seorang perempuan untuk duduk kursi. Pasangan ini matanya ditutup dan jempol masing-masing disambungkan dengan tali. Dari spiker terdengar suara desah dan rintih pasangan yang sedang bersetubuh. Lukisan besar itu pelan-pelan terbakar bagian atasnya dan api merambat ke bawah. Begitu lukisan habis terbakar Irvan nampak telanjang di dalam bingkai api. Ia hanya menutupi auratnya dengan bendera merah putih. Lalu ia menungging dan menyuntikkan jarum ke pantatnya berkali-kali hingga melelehkan darah. Irvan memberi judul karyanya “Konsep Atau Resep”.


Wit Jabo bertutur tentang Aceh, tentang TNI, tentang Indonesia. Di lapangan parkir ia menaruh sebutir semangka di atas bendera merah putih. Ia menghujamkan rencong ke tubuh semangka itu. Lalu semangka yang sudah terluka dibungkus bendera dan dibanting-bantingkan ke tanah hingga mengeluarkan cairan merah. Jabo memandikan semangka dan bendera, seperti sedang memandikan jenazah. Lalu membawanya ke loby gedung, mengapaninya dengan kain putih dan kemudian membungkusnya dengan tikar. Jenazah semangka dan bendera itu di bawanya ke atas panggung. Di atas panggung ia pun menyembahyangkannya. “Dengan perang saudara, Indonesia telah bunuh diri,” teriaknya. Penonton terpaku.


Setelah penampilan Jabo yang mencekam, penonton kemudian digiring kembali ke lapangan parkir. Doni Muhammad Nur nampak menuliskan sesuatu di atas papan tulis, tanpa bersuara ia mengisyaratkan penonton untuk terlibat. Doni membuat soal yang harus diisi jawabannya oleh penonton. Namun penonton tak mengerti apa yang dimaui Doni. Terjadilah mis-komunuikasi, meski akhirnya satu demi satu penonton maju mengisi soal tersebut. Sementara para penonton berpikir, ia asyik makan-makan. Doni nampaknya ingin bertutur tentang Indonesia yang penuh dengan teka-teki, mis-komunikasi dan ketidakpedulian. Banyak soal yang harus dijawab dan diselesaikan, namun tak satu pun yang bisa tuntas. Judul karya ini adalah “Enigma”, sebuah teka-teki.


Nazarudin Azhar kembali mempersilahkan penonton memasuki gedung. Kidung Purnama sebagai stage manager nampak pontang-panting menyiapkan proverti para seniman. Begitu penonton masuk, Ageung Noor Pandani telah berdiri telanjang di atas panggung. Tubuhnya berlumuran cairan merah, seperti bayi yang baru dilahirkan. Ia berbicara gagap dan megap-megap. Lalu datang seseorang membalutkan kain putih ke sekujur tubuh dan kepalanya. Kain putih itu bertuliskan “politik”, “teroris”, “pemerkosa”, “bom”, “hukum”, “militerisme” , “korupsi” dan seterusnya. Lalu seseorang itu memasang mercon besar di kepala Ageung dan kemudian menyulutnya. Para penonton pun tegang. Terdengar bunyi letusan, dan Ageung pun roboh. Karya ini berjudul “Solution”, yang bercerita tentang proses kelahiran dan kematian.


Christiawan tampil di puncak acara dengan karyanya yang berjudul “Peneguhan Diri”. Christiawan menyiapkan potongan kertas, spidol dan alat penjepit dari logam, lalu ia mempersilahkan penonton untuk menuliskan “sesuatu” tentang Indonesia di atas kertas dan kemudian menjepitkannya di bagian mana saja di tubuh atau mukanya. Christiawan yang bertelanjang dada merentangkan tangannya. Sejumlah penonton yang telah menulis kemudian menjepitkannya di telinga, pipi, leher, perut, ketek, dada, tangan dan sebagainya. Tubuh dan kepala Christiawan penuh dengan sobekan kertas yang berisi tulisan-tulisan tentang Indonesia. Lalu ia menyuruh seorang penonton membalutkan benang ke mukanya hingga penuh. Dengan muka dan mulutnya yang terbalut benang ia menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suaranya tidak keruan, megap-megap, seperti pelo. Christiawan nampak menahan sakit akibat jepitan dan balutan.


Dari tulisan-tulisan yang dijepitkan ke tubuh Christiawan banyak hal menarik yang perlu dicatat, misalnya: “Kalau ingin maju jadikan Inul presiden”, “Lebih damai tanpa partai”, “Bagi rakyat partai tak penting-penting amat”, “Indonesia perlu revolusi”, “Selamat tinggal Indonesia”, “Over dosa Indonesia”, “Indonesia harus merdeka”, “Musnahkan sumber perpecahan”, “Basmi Korupsi”, “Hidup Poligami”, “I love Indonesia” dan lain sebagainya.


Karya-karya performance art menjadi unik karena lahir dari kesadaran subyektif senimannya. Kesadaran tersebut muncul sebagai respon terhadap kondisi sosial, politik dan budaya di mana seniman itu berada. Keunikan pembacaan yang subyektif ini, seperti yang nampak diperagakan oleh Christiawan dan Kelompok Kelelawar, telah mengantar performance art ke dalam penyajian kesenian yang bentuknya sangat lentur dan tidak baku. Bisa sebagai tontonan seperti yang dilakukan Ageung dan Irvan, bisa juga dengan melibatkan penonton seperti yang dilakukan Doni, Wan Orlet dan Christiawan. Atau seperti Jabo dan Lucky yang tidak melibatkan penonton namun bermain di tengah-tengah mereka, seperti tanpa jarak.


Dari kawasan Dadaha, sebuah ruang publik yang masih tersisa di Tasikmalaya, para seniman ini telah membaca Indonesia dengan caranya masing-masing, dari ruang pikiran dan perasaannya masing-masing.

(2003)

Prev Next Next