Artikel 13

HIDAYAH YANG BERNAMA KOLABORASI


Acep Zamzam Noor


NAMA Rizaldi Siagian pertama saya dengar dari pemberitaan di koran-koran tentang Megalitikum Quantum, sebuah pentas musik kolosan yang disutradarainya tahun lalu. Saya sendiri tidak menonton pertunjukan yang menampilkan musik-musik etnik itu. Namun Endo Suanda dalam banyak kesempatan dengan saya sering menyebut-nyebut namanya sebagai pakar musik gambus yang langka. Endo sangat berminat membawa tokoh yang banyak berperan di belakang layar ini mengadakan pagelaran di tempat saya, di Cipasung. “Jangan khawatir Rizaldi akan tampil dalam kesederhanaannya. Ia akan main solo namun diusahakan agar dalang Slamet Gundono bisa mendampingi,” ujar Endo. Tadinya saya mengira Rizaldi akan datang bersama rombongan orkes yang besar, makanya saya sedikit shock bercampur girang menanggapinya. Bagaimana pun antara musik gambus dengan pesantren pernah ada semacam pertautan, meskipun atmosfir tersebut sudah lama menghilang.


Siapakah Rizaldi Siagian? Rizaldi adalah seorang pemusik sekaligus etnomusikolog. Selama 20 tahun dengan serius ia meneliti sejarah alat musik yang bernama gambus. Ia menamakan alat musik tersebut sebagai gambus Melayu karena baik bentuk maupun bunyinya sedikit berbeda dengan gambus yang berasal dari Timur Tengah. Menurutnya kedatangan gambus ke Nusantara diperkirakan jauh sebelum Islam masuk, jadi ada juga persentuhannya dengan tradisi Hindu. Gambus tersebar hampir di seluruh kepulauan Nusantara, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi sampai Nusa Tenggara. Tentu saja dengan bentuk yang sedikit berbeda. “Kadang juga disebut gambus belalang dan merupakan cikal bakal dari alat musik yang bernama banjo,” ujarnya.


Sebelum pagelaran yang berlangsung 29 Mei 2006, saya sempat ngobrol dengannya. Rizaldi bercerita bahwa ia bukan hanya tertarik meneliti sejarah gambus namun juga belajar keras untuk bisa memainkannya. Bahkan ia juga berusaha merekonstruksi alat musik tersebut sesuai dengan bentuk asli yang diamatinya dari peninggalan kerajaan-kerajaan Melayu. Bermacam-macam jenis kayu pernah dicoba sampai ia menemukan jenis kayu yang paling pas, yakni kayu nangka. “Namun tidak semua kayu nangka baik, banyak juga yang mudah kena rayap. Gambus yang saya pegang ini berasal dari pohon nangka yang tumbuh di halaman pesantren di Sumatera Utara. Kayunya keras sekali, mungkin karena setiap hari mendengar suara adzan dan orang mengaji,” selorohnya sambil mengelus-elus gambus dengan 7 dawai yang dibuatnya sendiri. Selain kayu, alat musik ini juga menggunakan kulit seperti halnya banjo, dan kulit yang cocok untuk gambus adalah kulit lembu. Memang banyak persyaratan untuk bisa menghasilkan gambus dengan resonansi yang baik, misalnya kayunya harus ditatah dalam keadaan basah dan kulitnya harus dipilih dari lembu yang masih muda.


“Dulu saya ini seorang pemain band yang biasa tampil di kafe-kefe, namun setelah mengenal gambus saya menjadi khusyuk bermain sendirian,” katanya. Rizaldi kemudian memperlakukan gambus sebagai bagian dari dirinya. Ia selalu membawa alat tersebut ke mana pun pergi. Ia selalu memainkannya setiap habis sembahyang atau menjelang tidur malam, sebagai cara lain untuk berdoa atau tafakur. Dan uniknya, selama 20 tahun menggauli alat musik tersebut belum pernah sekalipun ia memainkannya dalam sebuah pagelaran di hadapan umum.


“Sejarah gambus Melayu akan mencatat bahwa untuk pertama kalinya alat musik ini dimainkan secara solo, dan saya melakukannya di Pondok Pesantren Cipasung ini,” ujarnya ketika akan mengawali pagelaran, yang kemudian disambut aplaus panjang dari ratusan santri yang memadati aula. Malam itu Rizaldi hanya tampil sendirian karena dalang Slamet Gundono dari Solo yang direncanakan menemaninya dengan gambus pesisiran, berhalangan hadir karena tempat tinggalnya baru saja terkena gempa bumi.


Memang gambus bukan alat musik yang biasa ditampilkan secara solo seperti halnya gitar. Gambus selalu tampil bersama alat-alat lain dalam sebuah ensambel atau orkes dengan sejumlah penyanyi dan penari. Dalam bayangan saya, mungkin juga para penonton lain, musik yang akan dimainkan Rizaldi tidak akan berbeda jauh dari gambusnya Umi Khulsum, Rafiqoh Darto Wahab atau Nasyida Ria yang pernah populer di kalangan pesantren. Tapi yang kemudian muncul di panggung bukanlah musik padang pasir seperti yang saya bayangkan, melainkan sejumlah komposisi yang kental dengan nuansa lokal. Saya seperti mendengar kembali irama cianjuran, kecapi suling, tarawangsa, sitar India atau entah apa lagi.


Rizaldi sendiri tidak menyanyi, ia hanya memainkan dawai-dawai gambusnya. Ia nampak sangat khusyuk, matanya terpejam dan kepalanya menggeleng-geleng seperti sedang berdzikir. Permainannya seolah hanya bertumpu pada kelincahan jemari serta kebebasannya melakukan improvisasi, tapi sebenarnya ia sangat dikendalikan oleh gerak hati. Dari sekian komposisi yang dimainkan hanya satu yang diberinya judul, yakni “Zapin Menjelang Magrib”, yang diserapnya dari musik tradisional Maroko. Selebihnya adalah komposisi-komposisi yang indah, namun mungkin akan berbeda jika dimainkan di tempat atau dalam suasana yang lain. “Apa yang saya mainkan malam ini belum tentu bisa saya ulangi lagi secara persis di tempat lain,” katanya.


***


Yang ditampilkan Rizaldi Siagian di hadapan para santri mungkin lebih tepat disebut workshop ketimbang konser. Suasananya sangat santai dengan penonton yang semuanya lesehan di lantai. Setiap akan memainkan sebuah komposisi ia selalu memulainya dengan cerita, baik cerita tentang gambus maupun proses kreatifnya sebagai pemusik. Bagi lelaki separuh baya ini, gambus Melayu melambangkan spiritualitas karena rancang bangunnya bisa ditafsirkan sebagai huruf alif, lam dan mim apabila dilihat dari arah depan, arah samping atau ketika alat musik ini direbahkan. Begitu juga bunyi yang dihasilkannya sangat kontemplatif seperti halnya doa atau dzikir. Maka tidak mengherankan jika alat musik tersebut kemudian menjadi penting dalam perkembangan kesenian Islam di nusantara, bahkan menjadi salah satu ikon dari kesenian Islam.


Rizaldi sangat percaya bahwa terciptanya sebuah karya merupakan hidayah yang kehadirannya tak bisa dilepaskan dari ilham. Makanya latihan yang terus menerus menjadi sangat penting, karena ilham-ilham yang datang akan gagal menjadi hidayah kalau si seniman tidak siap menangkapnya. Dan salah satu alat untuk menangkap ilham tersebut adalah keterampilan. “Saya main musik bukan hanya dengan otak, tapi juga dengan rasa dan hati hingga merasa bebas berimprovisasi. Tapi kebebasan ini harus dituntun oleh keterampilan, pakem, norma atau pengetahuan hingga hasilnya tidak chaos,” katanya menegaskan.


Sebagai puncak dari pagelaran gambusnya, Rizaldi Siagian mengundang seorang santri yang juga qoriah untuk berkolaborasi dengannya. Ia mempersilahkan santri tersebut melagukan maqom apa saja yang terdapat dalam seni qiroat, dan kemudian diresponnya. Meskipun awalnya sedikit canggung namun lama-lama mereka menemukan “kebebasan” juga, si santri masuk ke dalam atmosfir gambus dan berimprovisasi dengan nada-nada tinggi. Terjadi persenyawaan yang indah antara lengkingan suara qoriah yang melagukan bayati dengan petikan-petikan gambus yang menyayat hati. Dari peristiwa yang tidak disengaja ini saya melihat bahwa antara musik gambus dengan seni qiroat ternyata bisa berkomunikasi, bahkan sangat komunikatif. Cukup lama mereka saling merespons, saling bersahutan satu sama lain. Cukup panjang juga aplaus yang diberikan penonton setiap mereka mengakhiri sebuah lagu.


Mungkin inilah hidayah yang dimaksudkan Rizaldi Siagian tadi, yakni kesiapan seorang seniman dalam menangkap ilham yang datang secara mendadak. Kesiapan yang lahir dari latihan serta proses belajar yang terus menerus. Padahal keduanya belum saling mengenal, mereka bertemu secara spontan, tanpa persiapan, tanpa rancangan sebelumnya. Rizaldi seorang pemusik sekaligus etnomusikolog lulusan Amerika, sedang si santri yang entah siapa namanya seorang qoriah muda asal Tasikmalaya. Genre kesenian mereka jelas berbeda, begitu juga usia dan budaya yang melatarinya. Namun keduanya seperti mempunyai ketulusan yang sama, ketulusan untuk saling memberi dan menerima, bukan mendominasi apalagi menghegemoni. Dan saya kira itulah hidayah yang bernama kolaborasi.

(2006)

Prev Next Next