Artikel 8

POLITIK KEGEMBIRAAN


Acep Zamzam Noor


MUKTAMAR Penyair Jawa Barat 2003 yang digelar di Tasikmalaya, 29-30 Maret 2003, bukan hanya pesta para penyair tapi merupakan hajat hampir seluruh seniman dari berbagai jenis kesenian, khususnya yang ada di Priangan Timur dan umumnya dari Jawa Barat. Meski sempat mengundang kontroversi soal penggunaan kata “muktamar” yang dianggap politis, acara pertemuan penyair se-Jawa Barat ini berlangsung meriah. Bukan hanya para penyair peserta yang datang dari berbagai kota, tapi juga para penggembira. Masyarakat Tasikmalaya pun ikut terlibat dalam acara langka ini. Seperti juga muktamar yang biasa dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU) atau partai-partai tertentu, Muktamar Penyair Jawa Barat 2003 ini juga merupakan serangkaian acara mulai dari yang serius, yang menghibur sampai yang “heboh”. Mulai dari pembukaan yang mirip muktamar beneran, peluncuran antologi puisi, seminar sastra, diskusi sastra, pembacaan puisi peserta, sidang pleno penyair, pawai ta’aruf (karnaval) sampai perumusan “thausiyah penyair” yang merupakan pernyataan sikap para penyair Jawa Barat terhadap masalah kemanusiaan dan kebangsaan.


Di sini saya hanya ingin mencatat salah satu acaranya saja, yakni pawai ta’aruf atau karnaval. Sudah cukup lama masyarakat kota Tasikmalaya menunggu acara karnaval ini. Setelah “Karnaval Kawin Massal” digelar dua tahun lalu di Singaparna banyak masyarakat yang penasaran dan menanyakan pada saya kapan karnaval serupa digelar di kota Tasikmalaya. “Kita menunggu momentum yang tepat, karena karnaval tidak bisa berdiri sendiri namun harus terkait dengan peristiwa lain atau harus ada dalam rangka-nya,” begitu biasanya saya berkilah.


Pawai ta’aruf dilangsungkan pada Hari Sabtu, 29 Maret 2003. Setelah acara pembukaan muktamar pada pagi harinya. Pukul 13.3O WIB para peserta beristirahat sambil menyiapkan perlengkapan untuk ikut pawai. Setiap penyair yang diundang diminta panitia untuk menyiapkan kostum yang menjadi khas daerah asalnya, atau kostum rancangan sendiri yang tidak biasa alias aneh. Panitia menyediakan puluhan becak khusus yang dirias untuk para peserta lengkap dengan gunungan yang menunjukkan identitas daerahnya, puluhan becak berhias lain akan diisi oleh tamu-tamu undangan khusus, termasuk para pejabat. Sementara sejumlah becak lainnya disiapkan untuk berbagai performance oleh para seniman yang memang menggunakan becak sebagai medianya. Pukul 14.OO berbagai rombongan kesenian, rombongan drumband, komunitas kesenian dan sosial, ormas, LSM dan utusan partai politik sudah mulai berdatangan ke halaman Gedung Dakwah Islamiyah yang berada di pusat kota, di samping Masjid Agung, dekat Gedung DPRD dan Kantor Bupati. Mereka sibuk menyiapkan diri.


Panitia mengundang sejumlah kelompok teater, kelompok musik, kelompok drumband, kelompok seni tradisional dari Tasikmalaya dan Ciamis. Juga mengundang beberapa seniman (termasuk dari Garut dan Bandung) dan komunitas waria untuk melakukan performance art. Kelompok kesenian dan seniman ini disiapkan secara khusus untuk melakukan pertunjukan atau atraksi selama pawai berlangsung. Pertunjukan atau atraksi disiapkan di beberapa titik tertentu, dengan penjadwalan yang ketat. Selain kelompok-kelompok ini panitia juga mengundang sejumlah sekolah, madrasah, pesantren, ormas, LSM dan partai politik untuk ikut berpartisipasi dalam pawai ini dengan kreasinya masing-masing. Untuk kelompok partisipasi ini panitia membebaskan mereka memilih tema sendiri baik untuk kostum maupun prosesi iring-iringan. Mereka juga diberi kesempatan untuk melakukan atraksi asal ada koordinasi dulu dengan panitia. Bagi partai politik yang ingin berpartisipasi dilarang berkampanye dan membawa atribut partai. Peraturan ini diterapkan untuk menghindari kekacauan dan tumpang-tindihnya atraksi, selain pemanfaatan secara politis.


Tepat pukul 15.00 seluruh peserta pawai sudah berkumpul dan mengatur barisan di depan Gedung Dakwah Islamiyah. Wakil Bupati dan Ketua DPRD Tasikmalaya juga sudah siap melepas. Tapi drumband “Kipas” dari Cipasung masih berada di mesjid untuk sembahyang asyar. Acara pelepasan baru dimulai pukul 15.30. Ada sambutan singkat dari saya, disusul pidato Ketua DPRD. Setelah itu Wakil Bupati didampingi Ketua DPRD melepas pawai ini dengan diiringi tepuk tangan gemuruh dari masyarakat yang menonton. Kelompok Motor Besar (Mogi) Tasikmalaya membuka iringan-iringan ini, kelompok ini berperan sebagai pembuka jalan dan berada jauh di depan, lalu disusul dengan jip terbuka yang memberikan informasi lewat speaker kepada masyarakat. Keluarga Galuh Budaya (KGB) Ciamis dengan kostum tentara Romawi berbaris dengan gagahnya, dibelakangnya seekor naga besar mirip barongsay melenggak-lenggok. Disusul kelompok drumband anak-anak “Kipas” yang jumlah personilnya seratusan orang beraksi dengan kostum warna-warni. Puluhan anak-anak menari-nari lincah dengan kipas dan puluhan lainnya memainkan instrument. Drumband ini cukup menyemarakan karnaval karena musik yang dimainkannya mengiringi kelompok-kelompok lain yang melakukan pertunjukan atau atraksi.


Di belakang drumband rombongan becak berhias mengangkut para penyair peserta Muktamar. Setiap penyair memegang gunungan yang menunjukan daerah asalnya. Sebagian penyair ini memakai kostum yang aneh-aneh, sebagian lainnya hanya dicoreng-coreng mukanya. Di belakang para penyair sejumlah becak berhias mengangkut para tamu undangan. Nampak sejumlah pejabat yang mewakili kantor-kantor dinas. Ketua DPRD yang berkulit hitam dan gemuk kelihatan sangat bergembira duduk di atas becak yang dikayuh oleh Wakil Bupati yang kurus. Yang dilakukan oleh Wakil Bupati ini bukan hanya simbolis atau seremonial saja, tapi beliau memang benar-benar mengayuh becak dari mulai start sampai finish, keliling kota sejauh 5 KM. Adegan ini tentu saja mengundang sorak-sorai masyarakat sepanjang jalan. Selain itu, komunitas waria Tiara Kusumah juga bak peragawati duduk dengan berseri-seri di atas becak. Satu rekannya tak henti-henti menteror penonton dengan menyulut bedil lodong yang dipasang di atas becak, si waria sendiri menari-nari begitu letusannya mengagetkan orang-orang.


Setelah rombongan becak yang berjumlah lebih dari seratus (sejumlah masyarakat secara spontan menyarter becak untuk ikut karnaval, meski tanpa dihias) disusul oleh kelompok-kelompok kesenian yang di titik-titik tertentu, seperti perempatan jalan, menggelar pertunjukan atau atraksi. Kelompok-kelompok ini beraksi secara total dengan kostum yang habis-habisan. Ada dua orang yang berperan menjadi kerbau lengkap dengan garunya, dipecutin sepanjang jalan. Ada yang hamil dan melahirkan kambing. Ada yang menjadi mayat. Ada yang menjadi pendekar. Ada yang dibungkus kain hitam-hitam dengan muka berlumur cat putih dan merah. Macam-macam. Ada juga yang berkostum seperti suku tertentu di Irian. Teater Ambang Wuruk menyiapkan pertunjukan khusus, begitu juga Teater Dongkrak, Teater Giri Sena dan teater-teater lain. Sementara Kelompok Borelak tampil dengan kostum Gatot kaca dan Hanoman, jadi pengatur lalu lintas membantu polisi dan pasukan Banser. Komunitas Trotoar yang anggotanya para pedagang kaki lima juga menampilkan pertunjukan yang menarik.


Setelah kelompok-kelompok kesenian, disusul oleh kelompok-kelompok partisipasi. Sejumlah sekolah, madrasah, pesantren dan ormas terlibat dengan antusias. Serombongan yang berseragam santri mengusung keranda jenazah, tapi keranda yang diusung itu bukan jenazah beneran tapi bedug yang sepanjang jalan ditabuh. Serombongan siswa madrasah berkostum ibu-ibu petani di desa membawa peralatan tani. Ada juga rombongan para wali dengan sorban dan bendonya yang mirip Pangeran Diponegoro, disusul rombongan santri lain yang menabuh rebana.


Sejumlah sekolah berpartisipasi dengan kostum khas sekolahnya masing-masing, ada juga yang memakai pakaian adat-adat di nusantara. Sementara itu, kesenian tradisional dari Sanggar Candralijaya yang sudah dipesan khusus untuk menampilkan kesenian Rengkong datang terlambat hingga baru bergabung di tengah jalan. Kesenian buhun yang sudah langka ini sangat menarik. Belasan pemainnya yang sudah tua-tua menanggung gelondongan bambu berisi ikatan-ikatan padi sambil menari-nari diiringi rebana berukuran besar dan nyanyian. Rombongan ormas, LSM dan partai mengikuti di belakang dengan kostum formal.


Selain kelompok partisipan yang tiap rombongan anggotanya berkisar antara 20-50 orang, juga banyak juga yang tampil sendiri-sendiri dengan kostum yang aneh-aneh. Ada yang berperan menjadi calon gubernur, ada yang mengaku broker, ada penyapu jalanan, ada biksu, ada yang membawa ular besar dan lain sebagainya. Mereka ini tidak berbaris secara disiplin namun berkeliaran sendiri-sendiri. Wawan S. Husin dari Bandung menampilkan performance art sendirian sepanjang jalan dengan membawa bendera putih. Begitu juga Wan Orlet yang tubuhnya dibalut kain kafan tampil dengan becaknya yang dilengkapi bendera merah-putih kumal yang sudah robek.


Pawai yang mengelilingi jalan-jalan protokol Tasikmalaya ini finish di depan gedung Dakwah Islamiyah pukul 17.00 sesuai rencana, tapi para peserta pawai belum mau bubar. Kelompok kesenian tradisional “Rengkong” yang tenaganya masih segar terus menggelar atraksinya di perapatan Mesjid Agung. Ketua DPRD dan Wakil Bupati ikut berjoget bersama peserta-peserta lain. Masyarakat bersorak. Kendaraan-kendaraan mengalah. Semuanya bergembira. Para pejabat yang sebelumnya memandang sebelah mata pada kegiatan yang dilakukan Komunitas Azan ini nampak bergembira dan bersemangat. Ketua DPRD yang juga pimpinan partai mengusulkan untuk menggelar karnaval semacam ini secara rutin. “Bisa saja dilaksanakan tiap tahun, asal tidak dibawa pada kepentingan-kepentingan politik,” jawab Saeful Badar.


Pawai ta’aruf atau karnaval semacam ini adalah politik kegembiraan, bukan politik kepentingan. Jadi siapapun boleh terlibat dan bergembira, dari ormas manapun, partai manapun, agama apapun dan suku apapun. Inti dari pawai ini adalah bagaimana kita bisa bergembira bersama-sama di tengah berbagai persoalan sosial dan politik yang telah membuat kita merasa sumpek dan tertekan. Sejumlah peserta dan penggembira muktamar menyatakan kekagetan dan kegembiraannya. Mereka tak menyangka akan diarak keliling kota dan diperkenalkam kepada masyarakat dengan cara yang heboh. Seorang dosen komunikasi dari sebuah universitas di Bandung yang semula mencurigai acara ini bermuatan politik, mengaku terharu dan matanya berkaca-kaca, lalu mengucapkan selamat pada saya dan teman-teman. “Ya, ini memang politik, tapi politik kegembiraan,” jawab Eriyandi Budiman sambil menepuk-nepuk pundak dosen tersebut.


Selain dari daerah-daerah di Jawa Barat, ada juga dari Jakarta, Yogyakarta, Madiun dan sejumlah bule asal Perancis. Mereka semua berjoget sepanjang jalan. Sedang jalan-jalan protokol yang menjadi rute karnaval dihiasi berbagai spanduk dari Partai Nurul Sembako (PNS) yang cukup populer di Tasikmalaya sebagai partai penganjur golput. Salah satu spanduknya berbunyi: Dengan Visi Religius Islami, Kita Masyarakatkan Poligami.

(2003)

Prev Next Next