Artikel 1

MELUKIS SEBAGAI KEGEMBIRAAN


Acep Zamzam Noor


DI TENGAH krisis moneter yang berkepanjangan, perdebatan politik yang tidak ada ujungnya, melambungnya harga-harga bahan pokok serta semakin melemahnya daya beli masyarakat, yang kemudian diikuti oleh booming singkong sebagai pengganti beras. Di tengah langkanya minyak goreng, lonjakan harga bawang merah dan cabe keriting yang fantastis, harga rokok yang semena-mena serta populernya kembali tembakau “Cap Padud” sebagai jalan keluar masyarakat untuk tetap bisa mengisap dan mengeluarkan asap. Di tengah terangkatnya harkat nasi tutug oncom alias TO yang menjadi menu favorit gadis-gadis cantik yang berseragam (para karyawati dept. store maupun bank), mahalnya harga emas dan fenomena uang logam Rp.100 terbitan 1991 yang kini sedang ramai diburu dan diperjual-belikan orang, iklan susu kuda liar yang semakin gencar, juga praktek-praktek KKN yang ternyata sulit sekali untuk bisa dibongkar secara terbuka karena sudah menjadi urat syaraf masyarakat kita. Dalam situasi seperti ini apa yang bisa dilakukan oleh seorang seniman?


Lucky Lukita adalah seorang pelukis dan aktivis kesenian yang termasuk riang gembira. Dalam beberapa tahun terakhir ini ia telah menunjukkan konsistensinya dalam berkarya. Dengan riang gembira ia melukis terus, di samping – tentu saja – mencari nafkah dengan menerima berbagai order dari mulai membuat taman, menggambari Vespa atau VW dengan airbrush sampai memodipikasi motor gede. Dengan riang gembira ia membuat kartu lebaran setiap bulan puasa tiba dan memasarkannya di Jl. H.Z. Mustofa. Dengan riang gembira membantu kegiatan kesenian lain di luar seni rupa, dan bahkan terlibat dalam aksi solidaritas bersama seniman-seniman Tasikmalaya lainnya untuk beberapa kasus yang mencuat di tengah masyarakat. Dengan riang gembira pula ia menggelar pameran tunggalnya yang pertama, justru pada saat krisis moneter yang berkepanjangan ini belum menampakan gejala akan segera sembuh. Kegembiraan Lucky Lukita adalah kegembiraan yang berangkat dari sebuah sikap berkesenian yang bersahaja, yang tidak muluk-muluk dan sepertinya tanpa beban apa-apa. Berkesenian, dalam hal ini melukis, baginya adalah sebuah kegiatan yang santai dan sangat menghibur.


Sebagai seorang otodidak yang sangat menikmati kerja melukis, Lucky memandang dunia kesenian bukan sebagai menara gading yang angkuh dengan seniman sebagai penghuninya. Dengan demikian baginya dunia kesenian – karena keluasan wilayahnya – adalah sebuah dunia di mana setiap orang bisa menyentuhnya dan bahkan boleh memasukinya. Sebuah dunia yang kelihatannya seperti main-main tapi juga sangat serius. Sedangkan posisi seniman adalah manusia biasa, yang masih bisa menikmati pertandingan sepakbola, mengikuti berita politik dan ekonomi, menempelkan poster di pinggir jalan, menyebarkan undangan kegiatan, mendengarkan lagu dangdut, joget, jatuh cinta pada anggota dewan yang masih lajang, makan nasi liwet dengan ikan asin serta melinting tembakau sambil membicarakan reformasi. Baginya seorang seniman bukanlah sejenis raja, yang umumnya mudah stres dan gampang tersinggung. Seniman adalah ayam kampung, yang tahan banting dan tidak cepat masuk angin.


Dengan memanfaatkan sebuah rumah makan di pinggiran kota Tasikmalaya, Lucky Lukita menggelar sekitar tigapuluh buah lukisan dengan berbagai ukuran dan material. Dalam pameran tunggalnya yang pertama ini Lucky mengambil tema sentral “daun”. Kenapa harus daun? Bagi pelukis yang berjenggot seperti sufi ini daun mempunyai nilai filosofis sekaligus fungsional. Dan inilah yang mengobsesinya selama bertahun-tahun. Baginya daun adalah lambang pertumbuhan, lambang kreatifitas yang tak habis-habisnya. Daun-daun tua bisa luruh atau berguguran, tapi daun-daun muda segera tumbuh menggantikannya. Dengan demikian daun mempunyai semangat reformasi, karena daun tua tak mungkin akan terus bertahan selama puluhan tahun. Daun tua akan jatuh dengan sendirinya (tanpa menunggu didemo oleh mahasiswa), yang kemudian akan digantikan oleh daun muda yang segar dan mempunyai visi. Ada proses regenerasi yang terus berkesinambungan. Ada proses demokratisasi yang sehat. Bahkan daun-daun tua yang membusuk di bumi pun akan terus bermetamorfosis menjadi humus yang kemudian mengirimkan enerji pada sang pohon agar tetap produktif. Kehidupan daun yang tidak berorientasi pada pusat kekuasaan ini jelas berbeda dengan dunia politik kita yang sering mampat.


Di tangan Lucky Lukita daun-daun itu tumbuh dalam bentuknya yang baru, yang mungkin akan sangat berbeda dengan daun-daun yang kita kenal di dunia nyata. Telah terjadi proses abstraksi, perubahan dari bentuk-bentuk nyata ke arah bentuk-bentuk yang ganjil meskipun tetap masih mengisyaratkan bentuk asalnya, yaitu daun – tak terlalu penting apakah itu daun pisang ataukah daun ketapang. Kemiripan dengan obyek nampaknya bukan persoalan utama yang ingin diungkapkan pelukis lewat karya-karyanya, yang semuanya diberi judul “Abstraksi Daun” ini. Simaklah sebait puisi yang ditulisnya pada katalogus pameran:


Daun-daun luruh oleh cuaca

Membusuk dalam pikiran

Menjadi humus kesadaran


Lucky ingin berbicara tentang sebuah gairah yang berkesinambungan, tentang rasa riang gembira dalam kerja melukisnya. Dari kanvas ke kanvas, dari kertas ke kertas, sesungguhnya Lucky lebih banyak bergulat mengolah material (akrilik dan cat minyak), menumpuk warna, menciptakan efek, membikin transparansi, tekstur, melelehkan warna, menggores, mengerok dan sebagainya. Bentuk-bentuk yang mengarah pada kesan daun itu nampaknya lahir dari keasyikannya mengolah beragam karakter material. Tapi yang perlu dicatat adalah, bagaimana selama proses pengolahan material ini pikiran dan perasaan pelukis selalu terobsesi oleh daun. Bukan hanya bentuknya yang memang menantang, tapi juga nilai filosofis serta fungsionalnya itu.


Pameran yang berlangsung sejak 18 Juli sampai 16 Agustus 1998 dan mengambil tempat di Restoran Lamping Resik ini telah mengisi salah satu agenda budaya di era Reformasi yang sebelumnya banyak diisi oleh aksi-aksi mahasiswa dan masyarakat ke gedung DPRD. Pameran ini bisa menjadi sebuah bahan renungan bagi kita semua, bahwa semangat reformasi tidak selalu harus berwujud unjuk rasa, mimbar bebas, gelar poster atau spanduk serta bermunculannya para broker politik. Semangat reformasi bisa juga bernuansa lain, seperti halnya lukisan-lukisan yang bermakna simbolis ini. Antara aksi dan apresiasi haruslah saling melengkapi.

(1998)

Prev Next