Artikel 3

SENI RUPA PINGGIRAN


Acep Zamzam Noor


SAYA dan teman-teman dari Komunitas Azan sudah cukup lama menggagas pameran seni rupa, yang di dalamnya ada workshop dan diskusi. Cukup lama juga mengadakan pengamatan terhadap para seniman yang berada di wilayah Priangan Timur. Dari pengamatan itu muncul gagasan untuk memilih seni rupa kontemporer, mengingat jenis seni rupa yang relatif baru ini belum banyak digelar. Dipilihlah 7 seniman (Kidung Purnama dari Ciamis, Lucky Lukita, Nazarudin Azhar, Yadi Mafie, Barli Pahat dari Tasikmalaya, Yeka Gama dan Gugum Gunawan dari Garut). Karya-karya mereka dinilai telah menunjukan kecenderungan yang tidak konvensional. Agar lebih bermanfaat bagi para seniman yang berada di pinggiran ini, maka diundanglah Wawan S. Husin, pelukis dan performer yang sudah tidak asing lagi dari Bandung. Wawan selain terlibat dalam pameran juga diharapkan bisa menghidupkan workshop dengan gagasan-gagasan jeprut-nya. Seluruh kegiatan yang bertajuk “Workshop dan Pameran Seni Rupa Pinggiran” ini dilangsungkan di sekitar rumah saya, di komplek Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.


Eriyandi Budiman selaku “kurator” menghubungi para seniman dengan memberikan pilihan-pilihan karya: mulai drawing, lukis, patung, kriya sampai instalasi. Karya-karya yang intinya bisa merespons ruang dan lingkungan. Lucky Lukita, Gugum Gunawan dan Kidung Purnama memilih instalasi. Yadi Mafie dan Yeka Gama memilih lukisan. Barli Pahat memilih ukir dan patung, Nazarudin Azhar memilih komik. Sementara Wawan S. Husin selain menampilkan performent art juga akan menggelar instalasi. Kurator pameran memberikan kebebasan kepada peserta untuk menyiapkan karya jadi atau setengah jadi, namun baik karya jadi atau setengah jadi akan digodok lagi dalam workshop yang berangsung 23-24 Januari, dua hari sebelum pembukaan (25 Januari). Pamerannya sendiri berlangsung sampai 1 Februari 2003.


Beberapa seniman bahkan sudah datang sejak 21 Januari dan mulai bekerja. 23 Januari seluruh seniman hadir dan mulai berproses dalam sebuah workshop yang santai tapi serius. Setiap seniman selain sibuk menyelesaikan karyanya masing-masing juga aktif berkomunikasi satu sama lain. Wawan S. Husin menjadi provokator dengan memancing para seniman untuk membebaskan diri dari batasan-batasan kesenian. Sementara Eriyandi Budiman terus membahas tentang kemungkinan pengembangan karya, baik dari segi gagasan maupun teknis pemasangan.


Lucky Lukita yang karyanya cukup “monumental” tak banyak mengadakan perubahan dari gagasan awal. Ia membikin gunungan setinggi 5 meter yang ditancapkan di tengah-tengah kolam. Gunungan dari triplek dengan konstruksi bambu ini diberi warna hitam-putih (mirip ying-yang). Pada gunungan bagian hitam tergantung jalinan tambang plastik kusut dengan warna-warna partai: merah, kuning, hijau dan biru. Sedang pada bagian putih ditempeli potongan bambu berisi hurup-hurup tak beraturan. Lalu belasan boneka tikus sebesar betis dijerat dengan dasi merah-putih dan digantung di bagian bawah gunungan. Ia juga memasang sirkulasi air warna merah yang digerakan listrik. Karpet plastik hitam putih model lapangan catur menjadi penampung air merah itu, yang sebagian bocor hingga menimbulkan warna kemerahan yang menyebar ke permukaan kolam.


Selain gunungan, Lucky juga memasang sebuah perangkap tikus cukup besar (3 X 3 meter) dari anyaman bambu di samping kolam. Di dalam perangkap itu ditaruh uang-uangan dan mobil-mobilan. Karya ini dinamai “Moro Beurit”. Lewat karya ini ia bercerita tentang tikus (koruptor) yang harus diburu. Tak hanya itu, pada saat acara pembukaan ia pun menampilkan performent art berburu tikus dengan bantuan rekan-rekannya dari Teater Bolon. Ia juga menyiapkan puluhan cermin kecil dan tusuk gigi yang akan dibagikan pada pengunjung.


Seperti juga Lucky, Gugum Gunawan membawa karya instalasinya dalam bentuk jadi. Gugum yang sebelumnya sudah tahu lokasi pameran, memasang karyanya dengan cara menggantungkannya pada pohon mangga di sisi kolam. Karya instalasi yang berjudul “Terperangkap” ini gagasannya dimulai dari merespons besi bekas kompor yang dibelinya di pasar loak. Ada tujuh besi bekas kompor yang diisi macam-macam benda seperti boneka-boneka yang terbakar, bekas lampu pijar, neon kecil, tabung berisi darah, batok kelapa yang gosong dan lain-lain. Dengan telaten benda-benda itu dibalut benang putih, kawat, kenur dan isi kabel berbagai ukuran. Sebagian besi bekas kompor itu dicat warna perak hingga selaras dengan warna kulit pohon mangga. Karya Gugum ini sangat impresif, bergelantungan di antara daun-daun kering dan ranting-ranting tua yang meranggas.


Yeka Gama dan Yadi Mafie menampilkan lukisan di atas kanvas. Gama membawa enam bidang kanvas berukuran sedang yang digabungkan memanjang. Gama tak hanya menggunakan cat tapi juga menempelkan kawat, ram kawat, kain perca dan perban. Material-material tambahan ini bukan hanya untuk mencapai efek tekstur bagi kanvasnya, tapi juga dimaksudkan sebagai idiom tersendiri. Dengan judul “Ketidakberdayaan”, Gama menggambarkan sosok-sosok manusia yang terpuruk, meratap dan terbungkam dengan pewarnaan yang cenderung gelap. Pada bagian kanvas lain seorang lelaki dengan jas dan dasi duduk di atas kursi. Tak banyak pengembangan yang dilakukan Gama selama workshop, namun dengan cermat ia memilih dinding pagar yang berlumut untuk menempatkan lukisannya. Ia juga mengoleskan lumpur pada bagian tertentu lukisannya.


Yadi Mafie memberi judul lukisannya “Potret Diri” yang terdiri dari empat bidang kanvas berukuran sedang. Seperti halnya Gama, keempat kanvas merupakan satu kesatuan, meski akan dipasang secera terpisah. Yadi membawa karyanya ke arena workshop dengan kemungkinan untuk dikembangkan, terutama cara pemasangannya. Setelah berdiskusi dan berinteraksi dengan seniman lain, Yadi akhirnya memilih sudut dinding pagar yang ada tanaman sente dan bambu Jepang. Yadi pun menambahkan sejumlah kursi warna-warni di antara lukisan-lukisannya. Lukisannya sendiri merupakan potret tentang dirinya sejak awal memasuki dunia kesenian hingga kini. Yadi memasang kaca cermin pada setiap lukisannya, dengan maksud untuk bercermin baik bagi dirinya sendiri maupun bagi siapapun yang melihatnya.


Kidung Purnama sangat serius mengikuti workshop ini. Ia menyiapkan drawing-drawing berukuran polio yang sudah ditempel ke atas triplek. Selain berbentuk segi empat, ada juga drawing segi tiga. Ia menyiapkan rangka besi, macam-macam gelas, sumbu, minyak kelapa dan pewarna. Ia juga membawa seperangkat alat laboratorium yang dipinjam dari sekolah tempat ia bekerja sebagai penjaga keamanan. Hari pertama workshop ia hanya duduk bersila menghadapi material yang dibawanya. Kidung tak banyak bicara dan tak bisa diajak bicara. Nampaknya ia sedang bermeditasi. Matanya terpejam, mulutnya seperti berzikir. Ketika malam tiba ia mematikan listrik dan menyalakan lampu-lampu kecil dari gelas. Dengan bertelanjang dada ia terus bermeditasi. Eriyandi sempat menggodanya, namun ia bergeming.


Pada hari kedua Kidung baru membawa karyanya ke luar rumah. Ia memilih lorong antara dinding rumah dan dinding pagar untuk memajang karyanya. Besi-besi teralis di gudang ia manfaatkan untuk menyangga sebagian drawing-drawingnya. Beberapa digantung di dinding. Sementara gelas-gelas yang berisi minyak kelapa dan air dengan pewarna disebar di sekitarnya. Ada juga yang ditaruh pada rangka besi. Menjelang pembukaan ia menggelar karpet dan menyebarkan kertas-kertas puisi di sepanjang lorong. Ia memberi judul karyanya “Dialog 2003”.


Barli Pahat membawa benda-benda keras ke arena workshop. Sepasang sketsel berukir dari kayu jati, sebuah lesung berukuran 3 meter, sebuah dulang, patung kayu setinggi 2 meter, dua topeng kayu dan sebuah patung kaki. Dengan latar belakang kriya ia mencoba berkarya instalasi. Sebelum workshop dimulai ia sudah mulai memilih-milih tempat dan menyusun benda-benda yang dibawanya. Ia ingin memadukan benda-benda tradisional (lesung dan dulang) dengan karyanya sendiri. Dengan memilih garasi yang cukup luas, beberapa kali ia mengubah komposisi yang dirasanya terlalu artifisial. Ia pun terlibat diskusi dengan Wawan S. Husin dan rekan-rekan seniman lainnya, hingga akhirnya memilih komposisi yang minimalis. Beberapa trap kayu yang tadinya dipasang kemudian disingkirkan, begitu juga kain hijau yang tadinya sempat digelar. Ia memberi judul karyanya ini “Sakit”, sebagai gambaran situasi sosial yang menurutnya sakit.


Nazarudin Azhar datang ke arena workshop agak belakangan. Seniman bertubuh subur ini membawa istri serta setumpuk drawing dan komik di atas kertas. Ada dua seri karya yang akan digelarnya, yakni “Senyum Teroris” dan “Ngomik”. Nazar nampak gelisah memikirkan cara pemasangan karyanya. Ia sadar drawing dan komiknya yang menggunakan media kertas tak akan tahan dengan cuaca hingga harus memilih tempat yang aman. Hari pertama tak banyak yang dilakukannya, hanya diskusi dan mengamati rekan-rekannya bekerja. Ia berkeliling ke halaman depan, samping dan belakang. Lama ia mengamati kolam sambil melihat Lucky yang berjibaku memasang gunungan. Ia pun tersenyum melihat Kidung yang sedang khusyuk bermeditasi di depan karyanya.


Kegelisahan memikirkan keselamatan drawing dan komiknya terhadap pengaruh cuaca akhirnya dilawan dengan ekstrim: ia memutuskan melarung komik-komiknya ke kolam. Nazar lalu minta izin pulang untuk membawa komik-komiknya yang lain. Bersama istrinya ia merancang sebuah prosesi membuang sebagian drawingnya ke kolam. Prosesi ini, menurutnya, untuk melarung kesialan yang menimpa negeri ini. Karya drawing dan komiknya sendiri sarat dengan sindiran tentang situasi sosial dan politik. Dengan media komik ia sangat leluasa berkomentar tentang kejadian-kejadian aktual, mulai dari soal teroris, kenaikan BBM, perilaku presiden, wakil presiden, menteri dan tokoh-tokoh selebritis lainnya seperti Jusuf Kalla, Surya Paloh dan Aa Gym.


Kehadiran Wawan S. Husin sangat menghidupkan suasana workshop. Sebagai seniman jeprut ia sangat spontan merespons apa saja yang dilihatnya, baik lewat ucapan maupun perilaku. Setiap ucapan, gerakan dan tindakannya telah menjadi kesenian tersendiri. Wawan menjadikan dirinya sebagai media ekspresi. Hari pertama workshop ia langsung melepaskan tiga anak ayam dari tasnya. Setiap seniman yang tengah bekerja atau berpikir, ia ajak bicara. Ia juga bicara dengan pembantu di dapur, dengan anak-anak kecil. Ia tidak menggurui, tapi selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis. Ia berkeliling halaman, mengitari kolam. Malam harinyanya ia membuka dialog tentang sikap dan tanggung-jawab berkesenian, yang membuat semua yang hadir kaget dan tersentak. Beberapa nampak pucat.


Di hari kedua workshop Wawan S. Husin keliling kampung, bahkan sampai ke pasar Singaparna. Ia berdialog serius dengan Barli, dengan Kidung, dengan Gama, dengan Yadi, juga dengan masyarakat yang ditemuinya. Ketika Ma’ruf Sakan memukul jimbe dan Gugum menabuh gitar, Wawan mulai bergerak, berkeliling di sekitar kolam, menari-nari seperti seorang sufi. Ini berlangsung sampai sore. Malam harinya, pada sesi diskusi, ia membawakan makalah sambil menyanyi, menari dan keliling ruangan membawa cermin. Peserta diskusi pun terlibat, ada yang memainkan alat musik, ada yang ikut menari. Ada juga yang terbengong-bengong. Diskusi berlangsung hangat dan penuh tawa. Di akhir diskusi ia mengajak peserta ke luar rumah, mematikan listrik, menyalakan puluhan lilin dan menebarkannya di sekitar kolam dan taman belakang. Puluhan batang hio pun dibakar. Ia meneruskan aksinya, terus bergerak, menari-nari seperti seorang sufi.


25 Januari adalah persiapan terakhir menjelang pameran. Pagi-pagi Wawan S. Husin menceburkan diri ke kolam, bergerak-gerak dan menari-nari di dalam air. Ma’rup terus memukul jimbe dan Gugum menabuh gitar, sementara seniman lainnya merespon dengan gerakan silat. Kidung Purnama kembali bersemedi di depan karyanya. Nazarudin Azhar dibantu istri menempelkan drawing-drawingnya ke atas gabus, beberapa ditempelkan di dinding. Yadi, Barli, Lucky dan Gama kembali mengurusi karyanya. Wawan masih terus bergerak-gerak di kolam, sampai kelelahan. Setelah makan, mandi dan salat dhuhur, ia membentangkan kanvas hitam, mengeluarkan boneka dan bola dunia. Dengan iringan jimbe dari Ma’ruf ia melukis langsung tanpa kwas. Sebuah lukisan abstrak. Boneka dan bola dunia ditaruh pada bagian atas kanvasnya.


Ia melukis sambil bergerak-gerak, merayap di atas kanvas. Membalut pohon mangga dengan benang putih, lalu menempelkan lembaran kertas di sekujur pohon. Ia memanjat pohon itu, membalutkan lagi benang dan menempelkan lagi kertas, terus sampai ke puncak pohon. Pengunjung mulai banyak, anak-anak pada berteriak. Ia pun turun dari pohon dan langsung menceburkan diri ke kolam. Ia menyalakan lilin besar, terus bergerak-gerak, menari-nari di kolam sampai jam 14.00 siang. Jam 15. 00 acara pembukaan pameran akan dimulai.


Selama tiga hari lima nomer telah dimainkan Wawan S. Husin dengan khusyuk dan bergembira, dan puncaknya “Lamentation On Death And The Victims” akan dimainkan pada acara pembukaan. Bagi mereka yang mengikuti workshop tentu saja berdebar-debar menunggu kejutan apa lagi yang akan dimainkan pangeran jeprut ini. Di tengah acara seremonial, ketika kurator memperkenalkan para seniman, ia nampak sibuk mencukuri rambutnya sendiri sambil menggerak-gerakan kaki dan tubuhnya.


Ketika para undangan sudah memenuhi halaman depan, acara pembukaan pun dimulai. Eriyandi Budiman selaku kurator menyampaikan pidato kuratorialnya. Para seniman diperkenalkan ke depan. Wawan S. Husin mencukuri rambutnya sendiri. Lalu pameran dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas P dan K Kabupaten Tasikmalaya. Nazarudin Azhar memulai performent art dengan kostum hitam berkeliling membawa dua lilin merah (yang biasa digunakan dalam ritual kematian Cina), diikuti istrinya yang membawa setumpuk drawing yang dibungkus bendara merah putih. “Ada yang merasa lebih sebagai manusia,” berulang-ulang Nazar mengucapkan kalimat itu sambil terus berjalan ke halaman belakang, menuju kolam. Para pemain musik mengiringinya dengan tetabuhan, para undangan dan penonton mengikutinya dari belakang. Nazar turun ke kolam, satu persatu drawing (yang sudah ditempelkan pada busa) dihanyutkan ke kolam. Ia terus berteriak-teriak, melumuri wajahnya dengan tinta hitam, lalu dilap dengan bendera. Adegan berikutnya adalah mencuci bendera yang sudah ternoda oleh tinta hitam.


Penonton kembali ke halaman depan, Lucky Lukita sudah siap dengan atraksinya. Ia ingin menggaris-bawahi karya instalasinya dengan sebuah adegan berburu tikus. Seseorang yang berpakaian mirip tikus diburu dan dipukuli oleh sekelompok orang hingga ke halaman belakang. Mereka memburu tikus sambil berteriak: “Buru tikus! Buru koruptor!”. Setelah dibakar si tikus loncat ke kolam, dan terus diburu. Atraksi selesai, lalu Lucky berteriak: “Moro beurit belum selesai, karena beurit ada di mana-mana dan harus terus diburu”.


Pertunjukan berikutnya adalah tampilnya kembali Wawan S. Husin. Hanya pada acara pembukaan inilah mestinya Wawan direncanakan tampil, namun karena merasa mood, lima nomer performen ia mainkan selama workshop. Di puncak acara ia memainkan nomer “Lamentation On Death And the Victims”, dengan sisa-sisa tenaganya. Ia menari-nari sambil menyanyi. Ia menyalakan seikat hio satu per satu, lalu menusukkan hio yang menyala itu ke telinga. Ia pun membakar tangannya, pundaknya, juga kepalanya yang sudah gundul. Ia terus menari-nari, membagikan paku dan lembaran-lembaran kertas yang berisi pesan-pesan moral kepada para undangan, dan mempersilahkan mereka secara aktif memasang atau menaruhnya di mana saja. Di dinding, di pagar, di pohon, atau di hati mereka masing-masing.

(2003)

Prev Next Next