Artikel 11

KEPOLOSAN YANG MENGHIBUR


Acep Zamzam Noor


DI ATAS panggung nampak balairung kerajaan dengan sepasang tiang yang berukir di kiri kanannya. Lampu masih redup dan bunyi celempung terdengar hanya sayup-sayup. Ketika cahaya mulai menguat dan bunyi-bunyian beranjak keras, muncul kain-kain sarung yang berkibaran, seperti sebuah jemuran yang bergerak. Ternyata kain-kain sarung itu dibawa oleh sekelompok kera dan digerak-gerakan secara berirama. Seiring dengan alunan musik yang semakin rancak, kera-kera itu menari dengan lincah dan kadang menjulurkan wajah-wajahnya yang lucu. Setiap kera-kera itu menjulurkan wajahnya dari balik kain sarung, penonton yang tadinya tenang-tenang saja serentak bertepuk tangan dengan gemuruh. Itulah intro dari pementasan Teater Polos, yang membawakan lakon Lutung Kasarung di Gedung Kesenian Tasikmalaya, 4-5 Maret 2006.


Lutung Kasarung adalah cerita rakyat Jawa Barat yang sangat populer. Biasanya kisah tentang perebutan kekuasaan antara dua puteri yang baik dan jahat ini dipentaskan dalam bentuk sendratari yang kolosal. Namun di tangan Cupit Danuarta, penulis naskah dan sekaligus sutradara, cerita yang mengharukan ini dikemasnya dalam bentuk longser yang nakal. Dalam intro pementasan tadi misalnya, kata “lutung” dan “kasarung” diplesetkan secara visual menjadi kera-kera yang memakai kain sarung, padahal arti harfiah dari judul lakon ini bukan seperti itu. Cupit telah memplesetkan kata-kata tersebut berdasarkan unsur bunyi semata.


Cupit dengan kelompoknya memang serius memilih bentuk longser untuk setiap pementasan teaternya. Tentu saja yang ia lakukan berbeda dengan longser dalam pengertian teater rakyat, yang biasanya tanpa naskah dan hanya mengandalkan improvisasi antar pemain. Ia juga tidak selalu memaksakan selingan ibing (biasanya tayuban atau ketuk tilu), juga tanpa ngarayuda (meminta sawer pada penonton) dalam setiap pementasannya. Dan instrumen musik yang digunakannya pun disesuaikan dengan kebutuhan, tidak selalu harus ada kendang, gong atau suling seperti galibnya pementasan longser.


Mengangkat lakon yang berdasarkan naskah ke dalam bentuk longser menghadirkan banyak persoalan. Salah satunya masalah improvisasi pemain yang harus tetap spontan dalam merespons apapun yang terjadi baik di panggung maupun di tengah penonton. Sudah pasti improvisasi ini akan mengkhianati keaslian naskah. Dan karena tak mau merusak naskah orang lain, akhirnya sang sutradaralah yang menulis naskahnya sendiri. Dari 59 lakon yang pernah dipentaskannya sejak 1995, sebagian besar menggunakan naskah sendiri. Beberapa memang diadaptasi dari naskah lain, itu pun kalau kelompok ini mengikuti lomba teater yang naskahnya sudah ditetapkan panitia. Dan yang perlu dicatat, naskah-naskah yang dipentaskan Teater Polos semuanya berbahasa Sunda. Bahkan lakon Hamlet dan Romeo and Juliet karya Shakespeare pun pernah disulapnya menjadi longser yang dimainkan oleh anak-anak kecil.


***


Kerajaan Pasir Batang dipimpin oleh seorang raja yang sangat bijaksana. Raja tua ini mempunyai 7 orang puteri, dua di antaranya adalah Purbalarang (sulung) dan Purbasari (bungsu). Raja sangat menyayangi si bungsu karena perilakunya yang baik, jujur, penurut dan selalu mengalah kepada kakaknya yang jahat dan sok berkuasa. Karena usianya yang sudah tua dan mendapat wangsit dari kahyangan untuk bertapa, maka sang raja menyerahkan kekuasaan pada Purbasari, putri bungsunya. Sudah bisa diduga Purbalarang yang ambisius marah besar, maka dengan dibantu oleh tunangannya Indrajaya ia menyusun berbagai siasat untuk mencelakakan sang adik. Singkat cerita, karena kejahatan dan tipu muslihatnya wajah Purbasari yang cantik menjadi cacat hingga dianggap tidak pantas memimpin kerajaan. Purbasari kemudian diusir dan dibuang ke tengah hutan belantara yang penuh dengan kera, sementara Purbalarang mengambil alih tampuk kekuasaan.


Ada beberapa hal yang menarik dari pementasan Lutung Kasarung ini. Sejak awal sudah penuh dengan celotehan dan tingkah yang spontan dari para pemainnya, hingga adegan-adegan yang sebenarnya mengharukan atau menyedihkan malah disambut penonton dengan sebaliknya. Misalnya ketika Purbasari menerima siksaan atas perintah kakaknya, penonton malah tepuk tangan karena ada salah seorang pemain yang terpeleset dan jatuh beneran ke bawah panggung. Atau ketika seorang dayang yang memijat kaki Purbalarang sambil bersenandung, direspon sang puteri dengan menggerak-gerakkan pinggulnya hingga musik pengiring pun berubah iramanya menjadi dangdut. Seluruh pemain kemudian ikut berjoget. Begitu juga ketika sekelompok kera mengintip Purbasari yang sedang mandi dan mencuri pakaian dalamnya, mereka berebut BH dan memperlakukan benda asing itu seolah-olah kacamata. Tentu saja semua penonton tertawa.


Improvisasi juga terus berkembang kepada hal-hal yang lebih kontekstual. Selain menyebut nama-nama penonton yang hadir dan mengomentarinya satu persatu, para pemain juga menyentil para pejabat, bupati, walikota, pilkada yang baru saja berlalu sampai kasus mark up gedung DPRD. Alhasil pementasan yang dimainkan oleh siswa-siswi SD, SMP, SMA dan pemuda kampung ini menjadi segar dan menghibur, sekalipun inti cerita dari naskah ini menjadi tidak terlalu penting. Penonton sudah tahu bahwa Purbasari akan sembuh seperti sedia kala dan kembali merebut kekuasaan dengan bantuan Guru Minda, dewa yang menyamar menjadi seekor kera sakti.


“Lewat pementasan ini saya mencoba menerapkan pengalaman dari pelatihan guru kesenian, khususnya dalam membuat dawai dan topeng. Untuk iringan musik kami sengaja menggunakan celempung, kecapi dan walangkeke yang diajarkan Pak Endo. Begitu juga topeng yang dipakai oleh kera-kera itu, semuanya dibuat anak-anak berdasarkan hasil pelatihan,” begitu pengakuan Cupit Danuarta. Di samping dikenal sebagai sutradara teater, pemuda gondrong dan berjenggot ini adalah guru kesenian di sebuah SMA yang sudah beberapa kali mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan Pendidikan Seni Nusantara (PSN) pimpinan Endo Suanda.


Teater Polos bukanlah teater sekolah. Anggotanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak SD, SMP, SMA, mahasiswa sampai pedagang bakso. Namun teater ini mempunyai akses yang kuat pada sejumlah sekolah karena anggota seniornya banyak melatih teater di sekolah-sekolah. Tak heran jika setiap pementasannya selalu dipadati penonton, bahkan tak jarang mereka harus menambah jadwal pementasan karena permintaan penonton yang tidak kebagian tiket. Kelompok teater yang telah meraih beberapa penghargaan ini tidak hanya mementaskan garapannya di gedung kesenian, tapi juga di balai desa, kantor kecamatan, aula sekolah, rumah makan atau halaman rumah. Dalam sepuluh tahun perjalanan kreatifnya teater ini sudah berhasil membentuk komunitasnya sendiri, publiknya sendiri. Di mana pun mereka main selalu dipenuhi penonton. Bahkan ketika mengikuti lomba teater di Bandung pun tak pernah kekurangan penonton.


Memang banyak kritik dialamatkan kepada Teater Polos ini, misalnya pementasannya dianggap kurang serius, bentuknya tidak artistik, sering merusak naskah dengan improvisasi yang kebablasan serta memperlakukan teater sekedar lawakan belaka. Namun Cupit Danuarta dan kawan-kawan tetap konsisten dengan bentuk pilihannya ini, mereka malah semakin produktif dan jadwal pentasnya pun sangat padat. Dalam sebulan mereka bisa pentas beberapa kali, sesuatu yang mungkin sulit terjadi pada kelompok teater di kota besar sekalipun. “Untuk berkesenian di daerah kita tidak boleh egois, namun harus memperhatikan apa yang diinginkan penonton. Penonton pada umumnya butuh hiburan, apa salahnya menghibur mereka karena kita juga butuh mereka. Malah lucu kalau pentas teater tak ada penontonnya,” katanya beralasan.


Di lain pihak ia juga mengakui bahwa untuk membangun sebuah tradisi banyak hal yang perlu dikompromikan. Teater Polos yang anggotanya cukup banyak memang cocok dengan bentuk longser yang fleksibel karena bisa mengakomodasi pemain dalam jumlah berapa saja. Para pemain pun tidak terlalu dituntut mempunyai kemampuan akting yang mumpuni seperti halnya teater-teater “serius”, paling tidak bisa memerankan dirinya sendiri tanpa beban. Tokoh Purbalarang yang diperankan seorang siswi SMA misalnya, dengan santai mengeluarkan celotehan “gaul” laiknya remaja masa kini. Lupa dialog atau kostum terlepas pun bukan dosa besar, asal pemain tapis berimprovisasi. Justru dari sinilah komunikasi dengan penonton itu terjalin, jarak antara pemain dan penonton pun menjadi cair.


Dan tradisi yang diangan-angankan itu, tradisi bermain dan menonton teater, nampaknya sudah berlangsung di Jamanis, Ciawi, sebuah kampung di bagian utara Tasikmalaya. Di kampung inilah Teater Polos berkesenian bersama masyarakat, di tengah-tengah masyarakat, dan untuk masyarakat sekitar. Teater memang membutuhkan masyarakat, begitu juga masyarakat memerlukan hiburan. Hanya hubungan timbal balik seperti inilah yang akan bisa menciptakan sebuah tradisi. Tradisi berkesenian.

(2006)

Prev Next Next