Artikel 6

TEREBANG SEJAK DAN PANTUN BETON


Acep Zamzam Noor


TEREBANG Sejak adalah salah satu jenis kesenian terebang (perkusi) yang masih tersisa di wilayah Priangan Timur ini. Selain Terebang Sejak kita juga mengenal Terebang Gebes, Terebang Ciawian, Genjring Ronyok, Gembiyung serta dua atau tiga lagi kesenian sejenis. Seperti juga seni-seni terebang lain, Terebang Sejak nasibnya sangat mengenaskan. Para senimannya masih bersemangat meskipun sudah berusia lanjut, namun baik pemerintah maupun masyarakat nampaknya sudah kurang mempedulikan keberadaan mereka. Kenyataan ini bukanlah hal yang luar biasa, sebab kesenian-kesenian tradisional yang lain pun, khususnya kesenian yang bersifat kontemplatif, nasibnya selalu demikian. Kesenian jenis ini sulit untuk dieksplorasi menjadi kesenian klangenan yang bisa disukai banyak orang, seperti halnya Tarling atau Jaipongan.


Terebang Sejak dari desa Cikeusal ini adalah jenis kesenian kontemplatif. Kesenian yang cenderung mengajak kita untuk merenung atau tafakur, ketimbang menghibur. Kesenian buhun ini biasa ditabuh untuk mengiringi orang-orang yang melantunkan shalawat, nadom atau tembang-tembang puji-pujian lainnya. Terebang Sejak bukanlah jenis kesenian yang murni tontonan, karena pada zaman dulu kesenian ini biasa digelar di dalam atau di halaman rumah pada acara-acara selamatan atau untuk menyambut para menak yang berkunjung ke kampung. Baik para penabuh maupun hadirin duduk bersama-sama sambil melantunkan shalawat. Antara pemain dan penonton tak ada jarak, semuanya terlibat.


Yang khas dari terebang sejak bukan hanya terebangnya yang terbuat dari kayu nangka dengan berbagai ukuran, namun juga kulitnya harus menggunakan kulit kerbau yang tebal. Cara memasangnya juga sangat khas dengan menggunakan pasak yang juga berbeda dengan terebang lain. “Saya tidak tahu kenapa, tapi menurut karuhun memang harus memakai kulit kerbau yang belum dikasih garam,” kata Ipin Saripin, pimpinan rombongan terebang sejak ini.


Menurut Ipin pula, kesenian asal Tasikmalaya selatan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1870. Kesenian buhun yang terdapat di kampungnya itu bukan hanya Terebang Sejak, tapi juga Terebang Gebes, Beluk, Rengkong dan Angklung Buncis. Terebang Gebes dan Beluk yang masih mengandung unsur mistis jauh lebih tua, sementara Terebang Sejak muncul seiring dengan berkembangnya syiar Islam ke Tasikmalaya. Maka tak heran jika lagu-lagu yang ditembangkannya juga sekitar shalawat Al-Barjanzi dan Al-Daiba, serta yang digali dari riwayat Syeh Abdul Qodir Jailani. Kesenian-kesenian di kampungnya ini kemudian bisa berkembang karena mendapat perhatian dari bupati Sukapura pada saat itu.


Dalam acara “Pentas Seni Tradisional” yang digelar di halaman rumah saya di Cipasung, 10 Mei 2002, Terebang Sejak tampil membuka acara dengan 12 pemain, yakni 6 penabuh terebang, 3 pelantun shalawat serta 3 pelantun Beluk. Beluk sengaja ditampilkan untuk memberi aksentuasi dari penampilan Terebang Sejak yang cenderung motonon. Dengan tampilnya Beluk penampilan mereka menjadi lebih variatif. Setiap akhir shalawat selalu disambung dengan lengkingan-lengkingan panjang dan bergelombang dari para pelantun Beluk, dan tabuhan terebang pun menjadi lebih dinamis. Tak hanya memainkan suara anehnya, para pelantun Beluk juga kadang menampilkan tarian dengan gerakan-gerakan silat yang mendapat aplaus penonton. Yang menarik, baik para pelantun shalawat maupun Beluk ini semuanya berusia lanjut, namun suaranya masih kuat, lantang, jernih dan bersemangat. Mereka seperti tak kenal lelah dengan melengkingkan suaranya hingga ke nada tertinggi.


Di tengah yang menabuh, menembang dan menari tiba-tiba muncul seorang yang berbaju hitam membawa golok. Ia pun ikut menari sambil memainkan goloknya. Ternyata tak hanya menari, ia pun beraksi dengan menebas lengannya sendiri berkali-kali. Para penonton yang kebanyakan santri panik, menjerit-jerit dan banyak yang menutup muka karena ngeri, namun orang itu malah tambah bersemangat. Ia kemudian menggorok lehernya, mencungkil matanya dan mengerat lidahnya sendiri. Tetabuhan terebang semakin rancak dan orang berbaju hitam itu menancapkan sejumlah jara (jarum berukuran besar) ke lengannya. Kembali ia menari-nari sambil menggesek-gesekkan golok ke perutnya, ke kuduknya. Tak puas dengan “membantai” diri sendiri, sambil tersenyum ia pun menjambangi serta menggorok leher para penabuh dan penembang satu per satu. Adegan yang tadinya menegangkan mendadak menjadi lucu karena ekspresi mereka yang digorok justru mengundang tawa. Seorang lagi rekannya dari arah penonton diseret ke panggung dan dilentangkan dengan dada telanjang, kemudian perutnya dicecar berulang-ulang dengan golok. Penonton pun bersorak. Godi Suwarna yang sengaja datang dari Ciamis bahkan berteriak mengusulkan semua penonton digorok lehernya.


“Ini adalah upaya kami agar kesenian Terebang ini diminati penonton,” ujar Ipin Saripin tentang masuknya Beluk dan Debus ke dalam pertunjukan Terebang Sejak. Menurut Ipin, bukan hanya Terebang Sejak, tapi Terebang Gebes pun bisa digabung dengan Beluk dan Debus, begitu juga Rengkong, Angklung Buncis dan Lais. Mereka memang satu kampung dan banyak di antara mereka yang bermain rangkap. “Hampir semua penabuh dan penembang menguasai ilmu debus, tapi tidak semua bisa melantunkan Beluk dengan baik. Beluk itu susah dan syarat-syaratnya mempelajarinya sangat berat hingga banyak yang tak kuat,” imbuh Ipin yang sudah puluhan tahun mengelola Sanggar Candralijaya.

***


Yang tampil malam itu tidak hanya Terebang Sejak dari Sanggar Candralijaya, tapi juga Pantun Beton dari Cahaya Mekar, dengan dalang M. Holis Widjaja (83 tahun). Pantun Beton bukanlah pantun dalam pengertian sastra lama, yang ada isi dan sampirannya. Pantun di sini hanyalah istilah untuk menamai salah satu jenis kesenian bertutur, sedangkan Beton adalah seperangkat alat (kecapi, saron, biola, kendang dan gong) yang mengiringi seni bertutur tadi. Menurut M. Holis Widjaja, Pantun Beton adalah kesenian bertutur dengan menampilkan seorang dalang atau juru pantun, pesinden dan sejumlah nayaga seperti halnya pertunjukan Wayang, namun tanpa memainkan anak wayang. Formasinya bisa 5 orang sesuai shalat lima waktu atau 9 orang seperti halnya walisongo. Selain Pantun Beton, ada juga Pantun Bondot dan Pantun Sindir yang bentuknya hampir serupa.


Sebagai tontonan Pantun Beton mungkin sama kontemplatifnya dengan Terebang Sejak. Hadirin hanya disuguhi cerita yang disampaikan dalang dengan diselingi tembang-tembang yang dilantunkan pesinden. Tapi berbeda dengan Wayang, cerita pantun tidak bersumber dari Ramayana dan Mahabharata, tapi dari sejarah dan legenda di tatar Sunda. Kesenian ini lebih dekat sebagai kesenian audio karena secara visual penampilan dalang terasa monoton untuk durasi yang lama. Dalang hanya berkonsentrasi sebagai penyampai cerita sambil memainkan kecapi. Di sinilah peran pesinden dan nayaga menjadi penting sebagai penyegar suasana dengan tembang-tembang dan musiknya.

Selain menyuguhkan cerita, kesenian yang tampil semalam suntuk ini juga menggelar ruwatan (semacam penolak bala). Biasanya setelah pukul 24.00, dalang menghentikan cerita dan menyelinginya dengan ruwatan. Bagi yang mengerti adegan ruwatan ini sangat mistis dan bisa membangkitkan bulu kuduk. Dalam ruwatan disajikan sesajen yang berisi 7 macam umbi-umbian, 7 rupa kembang, rumput palias, mayang jambe, sirih, cerutu, beras, uang logam, kopi pahit, telur ayam kampung dan bekakak ayam saadi (ayam yang dipisah dari induknya). Semuanya disajikan dalam cempeh yang ditaruh didepan dalang. Mencari sesajen yang diperlukan sekarang ini sangat sulit, bahkan untuk mencari ayam saadi saja, Ma’rup Sakan dan Cucu M. Falah harus mencarinya sampai keliling kampung.


Dalam penampilannya di hadapan ratusan santri dan masyarakat Cipasung, dalang M. Holis Widjaja yang menguasai 30 cerita ini menyajikan lakon “Gajah Putih Ditumpakan Puteri Tujuh” yang diselingi ruwatan “Batara Kala”. Di usianya yang sangat lanjut Holis masih nampak gagah dan berwibawa. Lakon ini bercerita tentang prosesi kelahiran dengan mengambil metafor tujuh puteri. Lakon yang diambil dari legenda ini terasa asing bagi masyarakat kebanyakan karena tokoh-tokohnya yang tidak populer dan ceritanya yang surealistik. Namun intinya adalah bagaimana seseorang harus menjalani kehidupan, seperti yang digambarkan dengan tokoh-tokoh puteri, yang di antaranya ada yang menjalani kehidupan sebagai ular sebelum kembali menjadi manusia seutuhnya.


Sebelum memulai lakonnya, sang juru pantun mengucapkan rajah dulu pada para leluhur yang ada di Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Bandung, Cirebon dan Banten. Mengucapkan rajah seperti halnya menyediakan sesaji merupakan syarat mutlak sebelum berpantun. Nama-nama yang disebut dalam rajah sangat banyak dan bermacam-macam: ada batara-batari, raja, pangeran, wali, kiai, pendekar, puteri, menak dan lain sebagainya. Ada juga nama-nama dari tokoh mistik dan legenda. “Pantun beton bisa diiringi sembilan orang sesuai dengan jumlah walisongo, atau cukup lima orang saja dengan merujuk pada rukun Islam,” begitu penjelasan Holis tentang personil kelompoknya, termasuk di dalamnya sinden.


Menonton Pantun Beton membutuhkan konsentrasi yang tinggi jika ingin menangkap alur cerita, tapi juga bisa lebih santai jika ingin menikmati keterampilan sang juru pantun memainkan suara dan kecapinya. Atau hanya mendengarkan tembang-tembang yang dilantunkan pesinden, tanpa peduli pada alur cerita. Penonton yang sebelumnya berjubel, setelah melewati pukul 24.00 satu per satu pada pulang. Namun Pantun Beton tak bisa dihentikan sebelum lakon benar-benar selesai, berapa pun jumlah penontonnya. Sampai lakon berakhir pada dinihari sekitar 30-an penonton masih bertahan, di antaranya para seniman dan wartawan dari Bandung. Ada yang lesehan dan ada juga yang sambil tiduran. Nazaruddin Azhar dan Kidung Purnama bahkan tidur lelap dininabobokan suara pesinden yang memang merdu.


“Meskipun sudah tua saya masih hapal 30 lakon dan bisa berpantun sampai pagi,” kata M. Holis Widjaja, yang dalam penampilannya kali ini dibantu Dedeh Komariah dan Enden (pesinden), Jojo (saron), Endang (biola), Andri (kendang) serta Maman (gong). Holis sangat khawatir dengan keberadaan Pantun Beton yang menurutnya nyaris punah ini. Di Jawa Barat hanya tinggal di Bandung, Sumedang, Subang dan Tasikmalaya. Di Tasikmalaya sendiri tinggal dua grup, yakni Cahaya Mekar dari Sukagalih yang dipimpinnya dan satu lagi dari Sukaraja. Holis pernah melakukan pengkaderan namun semua murid-muridnya kini sudah meninggal.


Menjadi dalang Pantun Beton konon sangat berat persyaratannya, bahkan lebih berat dibanding menjadi dalang Wayang. Selain harus menguasai teknis olah suara juga harus melakukan bermacam-macam ritual, seperti puasa, mutih, matigeni, bertapa di makam-makam keramat, ziarah dan lain sebagainya. Bahkan untuk mencapai maqom tertentu beberapa ritual yang harus dijalani sangat berbahaya dan bisa membuat cacat indera. Tak sedikit juru pantun dan nayaga Pantun Beton yang buta, di antaranya akibat menjalani ritual-ritual yang berat tersebut. Inilah barangkali salah satu yang menjadi penyebab sulitnya regenerasi dalam kesenian langka ini. Endang, pemain biola dalam kelompok ini juga buta.

“Kesenian kami bukanlah kesenian yang bisa mendatangkan uang seperti dangdut, tapi bagaimana pun kesenian ini adalah kekayaan budaya bangsa yang harus tetap diperhatikan keberadaannya, terutama oleh pemerintah. Sampai saat ini kami belum punya seragam dan ada tiga terebang yang kulitnya sudah bolong tak mampu kami ganti,” keluh Ipin Saripin dalam talkshow di RSPD FM beberapa hari sebelum acara ini dimulai. “Kami merasa bangga ketika diundang pemerintah pada acara Penas yang katanya akan dihadiri Megawati tahun lalu, tapi jadi bingung ketika mau pulang tak diberi ongkos. Panitia malah saling tuding,” imbuh Ipin memelas saat menceritakan pengalaman pahitnya. Akibat pengalaman ini Ipin dan kawan-kawan sempat merasa trauma jika ada yang mengundangnya ke kota, takut pengalaman pahitnya berulang.


Apa yang dikeluhkan Ipin Saripin juga dirasakan oleh M. Holis Widjaja dan Endang, bagaimana beratnya mempertahankan keberadaan Pantun Beton di Tasikmalaya. Bertahun-tahun kelompoknya tak pernah manggung karena tak ada yang mengundang. Masyarakat banyak yang tak tahu mahluk macam apa Pantun Beton itu, sementara pemerintah yang punya dinas kebudayaan serta kantor pariwisata juga sudah tidak memperhatikannya. “Pada tahun 1970-an tiap bulan kami diberi waktu siaran di radio daerah, dan bupati waktu itu sering mengundang kami ke pendopo. Tapi sudah puluhan tahun kami tak pernah diundang lagi ke sana,” keluh Holis sambil mengurai kenangan.


“Kesenian-kesenian tradisional yang ditampilkan malam ini betul-betul hampir punah karena tidak mendapat perhatian yang semestinya, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah. Padahal kesenian ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang tak terkira nilainya,” komentar pengamat budaya Enung Sudrajat. Zaman memang sudah sangat jauh berubah. Wayang, Pantun Beton, Cianjuran, Cigawiran adalah sarana pencerahan batin bagi para bupati zaman dulu. Sedang pendopo adalah ruang publik tempat bupati mengapresiasi beragam jenis kesenian bersama masyarakat. Sekarang semuanya sudah berubah total. Dangdut dengan penyanyi-penyanyinya yang bahenol telah menggantikan kesenian-kesenian kontemplatif sebagai sarana pencerahan. Pendopo pun sudah bukan ruang publik lagi.


Bagi para bupati masa kini, menikmati dangdut dengan organ tunggal atau karokean sambil memancing ikan di kolam-kolam pemacingan sungguh merupakan sebuah pengalaman spiritual. Dan dengan bekal spiritualitas dangdut semacam itulah mereka mengelola dan menjalankan pemerintahan.

(2002)


Prev Next Next