Artikel 12

KETIKA HUKUM MEMAKAI JAM KARET


Acep Zamzam Noor


Aeng adalah Alimin, seorang anak manusia

Yang diutus Tuhan untuk menegakkan kejahatan

Alimin adalah pahlawan kejahatan, seorang bromocorah

Manusia dari lingkaran yang negatif


Alimin telah merasa merdeka hidup di dalam penjara

Alimin telah tahu bahwa kematiannya itu besok

Alimin protes dan bertanya pada Tuhan:

Mengapa keadilan memakai jam karet?

Kenapa hukum belum horisontal?

Kenapa hukum tidak vertikal?


KALIMAT-KALIMAT di atas dibacakan oleh seorang pemuda dengan suara gemetar, wajah tegang dan kedua tangan terkepal. Tak lama kemudian pemuda itu menghilang ke balik panggung seiring dengan berdentumnya musik dan meredupnya lampu. Sampai di sini nampaknya pementasan masih belum dimulai, yang dibacakan oleh pemuda tadi barulah sinopsis dari monolog Aeng karya Putu Wijaya yang malam itu akan dibawakan oleh Wan Orlet, aktor sekaligus sutradara dalam pementasan ini. Wan Orlet menulis sinopsis tersebut sebagai sebuah tafsir dari naskah yang cukup lama digumulinya.


Bagi Wan Orlet, pekerja teater yang sehari-harinya mencari nafkah dengan mengayuh becak di seputar kota Tasikmalaya, Aeng merupakan naskah yang sangat menantang. Kehidupan sehari-harinya seakan terwakili oleh naskah yang bercerita tentang ketidakadilan bagi orang kecil ini. Orlet bukanlah bromocorah seperti halnya Alimin, sang tokoh dalam naskah ini, namun ia sangat merasakan bahwa ketidakadilan dan ketidakpastian hukum di negeri ini bisa menimpa orang kecil mana saja, termasuk dirinya. Tak kurang dari lima tahun dibutuhkan waktu untuk mendalami dan menyelami naskah ini, dan yang menarik ia bertekad untuk menampilkannya secara utuh tanpa edit atau sensor sedikit pun. “Naskah ini sangat mewakili kami sebagai bagian dari kasta terendah di negeri ini,” ujar Orlet, yang setiap sore berlatih bersama rekan-rekannya di pinggir sungai Cimulu, tak jauh dari pangkalan becaknya.


Aeng yang diangan-angankan untuk bisa dipentaskan keliling ke berbagai kota, pada tanggal 8 April 2006 atas prakarsa Komunitas Azan digelar terlebih dahulu di Cipasung. Dengan mengambil tempat halaman rumah saya yang tidak terlalu luas, pementasan monolog ini menjadi terasa akrab dan khusyuk. Hampir tak ada jarak antara penonton yang lesehan dengan panggung yang berkonsep teater arena. Begitu juga tak ada jarak antara penonton dengan aktor. Tawa atau celotehan kecil dari arah penonton sepertinya tak mengganggu permainan.


Sesungguhnya Aeng termasuk naskah yang “berat” untuk menjadi pementasan yang betah ditonton. Dengan durasi lebih dari satu jam sebuah monolog bisa saja jatuh sebagai sesuatu yang membosankan. Namun aktor sekaligus sutradara pementasan ini sudah mengantisivasi kemungkinan buruk itu. Wan Orlet tidak membawa naskah yang berisi kritik sosial ini pada wilayah komedi, meskipun hal ini sangat memungkinkan mengingat ada unsur satir dan parodi di dalamnya. Ia justru mengangkatnya pada suasana yang khusyuk, kontemplatif dan puitik. Sebuah percakapan diri, sebuah soliloqui menjelang hukuman mati, sebuah monologue interieur tentang eksistensi manusia di tengah kenyataan sosial dan politik yang serba tidak pasti. Putu Wijaya sebagai penulis naskah mengungkapkannya dengan kalimat-kalimat yang bernas, tajam, dan menggugat. Putu bukan hanya menggugat penegakan hukum namun juga posisi kekuasaan dan peran agama yang tidak semestinya di negeri ini. Dan Orlet sebagai aktor, memainkannya dengan intensitas yang tinggi, penuh dan total.


Paling tidak ada dua hal yang perlu digarisbawahi dari monolog ini. Pertama adalah posisi sang aktor sebagai pusat dari seluruh pementasan. Wan Orlet tidak hanya konsentrasi pada sektor pengucapan yang secara audio cukup jelas terdengar sampai ke pinggir jalan, namun ia juga mengoptimalkan seluruh tubuhnya sehingga berfungsi sebagai bahasa visual. Banyak sekali variasi-variasi gerakan yang ia mainkan untuk mendukung teks-teks yang diucapkannya. Misalnya ia memainkan gerakan yang menggambarkan seekor kecoa, sebuah simbol yang erat kaitannya dengan sel penjara. Ia juga memainkan gerakan-gerakan berlari, berjalan patah-patah seperti dalam pantomim, berjoged, membungkuk, merayap atau berguling-guling di lantai. Selain sebagai visualisasi yang digali dari kandungan naskah itu sendiri, juga sebagai upaya yang cerdas dalam menjaga tempo permainan.


Kedua adalah efektivitas properti. Sebagai pementasan yang diniatkan untuk tour keliling, properti-properti yang digunakannya sangatlah sederhana. Meja, kursi, botol, piring seng, kain batik, topi, kaos dan kemeja. Meskipun begitu properti-properti ini bukan hanya tampil sebagai set panggung, namun juga menjadi sangat fungsional dan berperan banyak dalam menghidupkan adegan demi adegan. Misalnya kain batik, selain sebagai selimut juga berperan sebagai ibu di mana Alimin sering berbicara dengannya. Begitu juga dengan topi warna merah yang berfungsi sebagai Nancy, seorang gadis imajiner yang diciptakan Alimin sebagai teman bercanda. Meja, kursi dan botol selain berfungsi sebagaimana umumnya, dalam kesempatan tertentu juga bisa berfungsi secara simbolis. Kursi menjadi lawan dialog yang terus dieksplorasi: diduduki, diinjak, dipeluk, diangkat dan dibanting. Begitu juga meja, selain disimbolkan sebagai hakim juga menggambarkan bentuk hukuman itu sendiri. Alimin kerap harus memanggul meja tersebut dengan punggungnya. Sedangkan kemeja lengan panjang mempunyai makna dan fungsi ganda, terutama ketika memasuki adegan memotong tangan sendiri.


Mengangkat persoalan hukum dan realitas sosial lewat sebuah pementasan teater di kampung, bisa jadi akan menumbuhkan semacam kesadaran baru bagi yang menontonnya. Semacam pendidikan politik tidak langsung. Dan terbukti ketika diskusi digelar, banyak pertanyaan atau komentar yang diarahkan langsung pada substansi cerita. Namun karena penulis naskahnya tidak ada, Wan Orlet hanya menjawab dalam kapasitasnya sebagai tukang becak yang merasa terwakili oleh naskah tersebut. Sementara untuk pementasannya itu sendiri, banyak yang menanyakan kenapa Orlet seperti mengabaikan unsur humor. Disinggung juga peranan musik pengiring yang dianggap kurang bisa mengimbangi intensitas sang aktor.


Memang, dalam pementasannya kali ini Orlet seperti ingin mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Kesan ini terlihat dari upaya dia melakukan gerakan-gerakan sulit seperti menggambarkan seekor kecoa atau merangkaki panggung sambil memanggul meja misalnya. Selain itu sejumlah gerakan yang pernah ia tampilkan dalam karya performance art-nya dulu, muncul kembali dan memperkaya pementasan ini. Namun sayang musik sedikit kurang mendukung.


Monolog, seperti juga pidato, orasi, ceramah atau khotbah sangat berpotensi membuat orang tidak tahan untuk mengikutinya. Banyak cara yang biasa dilakukan dalam mengatasi ancaman kebosanan ini, misalkan memasukkan unsur-unsur humor atau pornografi. Namun Wan Orlet tidak melakukan muslihat itu. Ia tetap bermain dengan khusyuk, kontemplatif dan puitik. Kemampuannya meramu yang fungsional dengan yang simbolis, terutama yang berkaitan dengan properti dan tubuhnya sendiri, cukup membantunya dalam mengatur tempo permainan secara keseluruhan. Bahkan di akhir pementasan ia membuat kejutan kecil. Dari arah penonton muncul suara-suara yang menghujat, suara-suara yang menteror serta lemparan benda-benda yang diarahkan kepada sang aktor. Lampu padam sejenak. Kemudian terdengar sebuah lagu lembut, Dealova, dinyanyikan beramai-ramai oleh seluruh awak, yang hampir semuanya tukang becak. Mereka berbaris di panggung seperti kelompok paduan suara ibu-ibu:


Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu

Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kaurindu

Karena langkah merapuh tanpa dirimu

Oh karena hati telah letih


Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kausentuh

Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu memujamu

Tanpamu sepinya waktu merantai hati

Oh bayangmu seakan-akan…


Wan Orlet membungkukkan badan dan kemudian diikuti oleh rekan-rekannya sebagai tanda pementasan telah usai. Tepuk tangan panjang menyambutnya, disertai celotehan dan suit-suit penonton. Wan Orlet tersenyum, begitu juga rekan-rekannya. Mereka seakan telah melepaskan sebuah beban yang berat, beban kehidupan sehari-hari. Dan besok mereka harus kembali ke pangkalan becaknya di Simpang Lima, menunggu penumpang seperti biasanya.

(2006)

Prev Next Next