Share |

Artikel 19

IN MEMORIAM AFFANDI

Acep Zamzam Noor


SUATU siang di bulan Agustus 1983, untuk ke sekian kalinya saya berkunjung ke Museum Affandi di tepi kali Gajah Wong, Yogyakarta. Kunjungan saya yang diantar seorang teman sekampung yang sedang kuliah di Yogyakarta, yang mengaku sering mengikuti pengajian mahasiswa Jawa Barat di rumah Affandi, merupakan kunjungan yang istimewa bagi saya. Selain berapresiasi pada lukisan-lukisannya yang terpajang di dinding museum, saya juga sempat bertemu dengan Affandi serta istrinya Maryati di beranda rumahnya yang terletak di samping museum. Rupanya itulah kesempatan satu-satunya dalam hidup saya untuk berbincang-bincang dengan Affandi, sebab pada kunjungan-kunjungan berikutnya – yang saya lakukan setiap ke Yogyakarta – kesempatan itu tak pernah terulang lagi. Begitu juga ketika saya mendengar pada tahun-tahun belakangan ini Affandi sering datang ke Tasikmalaya untuk menengok Rukmini – anak sulungnya dari istri kedua – serta mencari obyek-obyek bagi lukisannya, saya tak pernah kesampaian untuk menemuinya.

Dari perbincangan singkat beberapa tahun yang lalu saya menangkap kesan yang sangat kuat bahwa salah satu pelukis besar yang dimiliki Indonesia adalah seorang yang sederhana. Sederhana dalam kehidupannya sehari-hari, sederhana dalam berbicara, juga sederhana dalam sikap berkeseniannya. Kesederhanaannya bahkan mengesankan kepolosan dan keluguan, yang bagi saya pribadi mempunyai makna sebagai ketulusan dan kejujuran seorang pelukis.

Pada kesempatan itu saya memancing pembicaraan dengan mengabarkan bahwa film dokumenter “Affandi” yang dikerjakan Yazir Marzuki telah diputar di Seni Rupa ITB dan mendapat sambutan hangat dari para mahasiswa. Dengan terbata-bata karena usia lanjutnya serta sesekali dibantu oleh penjelasan istrinya, Affandi kemudian bercerita tentang perjalanan kepelukisannya yang panjang dan berliku, juga tentang sikapnya dalam menjalani kehidupan sebagai seorang seniman. Namun perbincangan yang mengasyikan dan mempunyai nilai yang sangat dalam bagi saya tiba-tiba saja berakhir. Affandi tiba-tiba tertidur di atas bangku bambunya. Dengkurnya terdengar halus mengiringi perbincangan kami dengan Maryati, istrinya yang setia.

Sebagai orang yang lahir dan hidup di masa penjajahan, keberangkatan Affandi memasuki dunia seni lukis benar-benar sendirian. Tak ada seorangpun yang mengantarnya, apalagi membimbingnya. Bahkan pilihannya untuk hidup sebagai pelukis ditentang keras kedua orangtuanya, hingga ia harus pergi dari rumah dan menghidupi dirinya dengan bekerja secara serabutan. Pelukis kelahiran Cirebon ini pernah hidup terlunta-lunta di Bandung, kemudian bekerja sebagai penyobek karcis bioskop, tukang bikin gambar untuk poster film dan lain sebagainya. Perjalanan beratnya kemudian berlanjut di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Tapi nampaknya masa-masa itu hanyalah episode kecil saja dalam perjalanan panjangnya yang penuh romantika. Yang paling menarik dari semua itu adalah keteguhan hatinya, kepercayaannya yang besar serta kecintaannya yang total pada seni lukis.

Secara formal Affandi tak pernah menduduki bangku akademis, karena memang waktu itu belum ada akademi seni rupa. Dasar-dasar melukisnya seperti menggambar bentuk, anatomi, komposisi dan seterusnya dipelajari sendiri. Kemudian dia bergaul dengan kawan-kawannya yang bercita-cita sama seperti S. Sudjojono, Hendra, Wahdi, Barli dan Sudarso. Memang ia pernah dikirim pemerintah untuk belajar ke India, tapi kabarnya di sana malah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melukis dan berproses sendiri. Begitu juga dalam pengembaraannya di beberapa negara Eropa, Affandi datang sebagai seorang pelukis yang sudah jadi. Bahkan pelukis yang mampu memberikan warna lain pada gaya ekspresionisme. Baik caranya yang unik dalam melukis maupun corak lukisannya yang memang lain dari yang lain.

Pengaruh keotodidakan nampak sekali pada setiap lukisannya. Lukisan-lukisannya sulit untuk dibandingkan dengan aliran-aliran seni lukis yang ada, sekalipun dengan ekspresionisme. Memang Affandi berada dalam arus besar itu, tapi ekspresionisme Affandi sangat khas justru karena keotodidakannya, karena pencariannya bersumber pada dirinya sendiri. Affandi hampir-hampir tak pernah peduli dengan apa itu komposisi, keseimbangan, bentuk, bidang, warna dan unsur-unsur rupa lainnya. Lukisannya adalah pernyataan emosinya yang paling personal, hingga hal-hal yang teoritis tadi dilebur dalam gerak hatinya yang menggelegak. Dalam melukis dia seperti menumpahkan seluruh kandungan lahar dari jiwanya dalam suatu kondisi yang mirip trance. “Saya tak pernah melukis dengan otak” begitulah selalu dia mengaku dengan jujur, sejujur lukisan-lukisan yang dikerjakan sekali jadi. Dan rupanya kejujuran itulah yang menjadi salah satu kekuatannya.

Jika lukisan-lukisannya digolongkan pada ekspresionis, maka Affandi adalah ekspreionis sejati. Dia tak pernah mengenal istilah revisi dalam kamusnya. Lukisan harus langsung jadi ketika dia menghadapi satu obyek, dan lukisannya sangat tergantung pada moment di mana dia merasa hanyut dalam satu emosi. Merevisi mungkin akan membuat lukisannya lebih baik, tapi menurutnya itu sudah tak jujur lagi. Emosi ketika dia melukis dan merevisi jelas sudah tak akan sama lagi.

Maka sangat wajar jika Affandi kemudian tidak pernah merasa puas dengan lukisan-lukisannya, bahkan dengan obyek-obyek yang pernah dikerjakannya. Ketidakpuasan ini akan dijawabnya dengan melukis kembali pada kanvas lain, bukan dengan merevisi lukisan yang sudah dikerjakannya. Ratusan bahkan ribuan potret dirinya dikerjakan dengan alasan dan semangat itu. Selalu saja merasa ada yang belum tuntas, yang belum terlukis dari obyek-obyek yang sama itu. Begitu juga pantai, perahu, sawah, barong, candi, pengemis, pelacur, orang tua, terus dikerjakannya dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun.

Kekuatan lain dari pelukis yang mempunyai energi luar biasa ini adalah kesederhanaan dan kerendahhatiannya sebagai manusia. Dia tak pernah merasa dirinya besar dan penting, bahkan ia sering mengidentikkan dirinya sebagai orang yang sedang belajar dan belajar. Affandi bukan termasuk pelukis yang vokal, dan tak pernah melontarkan konsep-konsep yang muluk. Baginya melukis adalah bekerja, dan karena fitrah manusia harus bekerja maka dia pun terus melukis tak peduli usianya yang lanjut dan kondisi fisiknya yang rapuh. Kerandahhatiannya juga selalu membuatnya tepekur, melihat hanya ke bawah, bersimpati kepada orang-orang yang bernasib buruk. Affandi tak pernah tergoda untuk melukis keindahan, melukis wanita cantik atau pria ganteng umpamanya. Nampaklah di sini keberpihakan Affandi dalam berkesenian, dia lebih peduli pada orang-orang kecil. Pengemis, pelacur, nelayan, petani, orang tua, anak kecil adalah model-modelnya yang setia.

Affandi bukanlah Basuki Abdullah yang flamboyan. Juga bukan Jeihan yang melukis gadis-gadis kampung dengan warna-warna pastel yang lembut dan manis. Affandi melukis pengemis, pelacur, nelayan, petani, orang tua, atau bahkan dirinya sebagai lambang dan penderitaan. Sebab baginya penderitaan sesama manusia lebih merangsang untuk dilukis daripada kemolekan seorang peragawati atau sekuntum bunga. Dan berbeda dengan Basuki Abdullah yang suka melukis lebih cantik dari model aslinya, maka Affandi cenderung melukis lebih jelek dari model yang sebenarnya. Dalam setiap potret dirinya selalu nampak wajah yang sangat menderita, kusut, dan tua. Kecenderungan ini nampaknya didasari oleh keprihatinannya yang sangat besar pada kemanusiaan atau sekaligus sebagai metafor dari perjalanan hidupnya yang sarat dengan cobaan namun berhasil dilalui dengan ketabahan, ketulusan, dan kejujuran.

Garis-garis yang berbelit riuh dari plototan langsung tube catnya, warna-warna kusam yang berjalin dengan terang di sana-sini, bentuk-bentuk semrawut tak bisa dibantah lagi sudah menjadi gaya milik Affandi yang khas. Tapi sesungguhnya gaya ekspresionis yang lain dari yang lain ini ditemukan lewat suatu proses pencarian yang panjang. Jadi tak begitu saja, apalagi sebagai pelarian dari ketidakmampuan membuat bentuk yang tertib. Tahun 40-an, yakni pada masa awal kepelukisannya, Affandi telah menunjukkan kemampuan teknis realisnya yang sangat mengagumkan lewat lukisan “Ibuku” (1940), “Kartika Kecil” (1941) atau “Saya Dengan Kartika”. Lukisan “Ibuku” yang dengan sempurna menggambarkan kerut merut ketuaan sang ibu oleh para pengamat bahkan dianggap sebagai lukisan realistis terbaik hingga kini. Masterpiece dari periode awalnya ini, kini menjadi koleksi Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Namun dengan gaya plototan-nya yang ekspresif dan liar Affandi dijuluki maestro atau empu. Sebab gaya inilah yang kemudian memberikan identitas atau ciri khas pada dirinya sebagai seorang pelukis. Sebuah gaya yang menumpahkan totalitas jiwa serta raga ke dalam permukaan kanvas. Sebuah gaya yang hanya Affandilah yang mampu melakukannya dengan penuh tenaga. Sebuah gaya yang oleh para pengamat disebut sebagai “jalan baru ekspresionis” karena kesegaran dan otentitasnya yang lain dari yang lain.

Kini Affandi, sang maestro seni lukis kita telah tiada. Hari Rabu, 23 Mei 1990 yang lalu pelukis besar ini dipanggil pulang kepangkuan-Nya yang abadi. Tapi sekitar 4000 buah lukisan yang telah dikerjakannya akan menjadi saksi keperkasaannya sebagai seniman sekaligus manusia, dan menjadi warisan yang tak ternilai harganya bagi dunia seni lukis kita khususnya, serta seni lukis dunia pada umumnya. Affandi memang telah pergi untuk selamanya, tapi bukan mati. Affandi akan tetap hidup, karya-karyanya akan tetap dikenang dan dikagumi oleh generasi-generasi mendatang.

Dan perbincangan singkat beberapa tahun lalu di rumahnya serasa hidup kembali dalam ingatan saya. Kebesarannya sebagai seniman tidak membuatnya bergeming sejengkal pun. Affandi tetap bersarung, berkaos oblong, makan tempe bacem dan gemar mengundang para pengemis dan tukang becak makan di rumahnya. Dalam pamerannya terakhir bersama putrinya Kartika di Taman Ismail Marzuki (23 November-Desember 1989), dia menulis pada katalogus: “Matahari hidup saya, dengan tangan saya bekerja, dengan kaki saya maju”. Affandi memang matahari, yang cahayanya menerangi setiap orang. Tapi dia juga manusia yang tetap bekerja, yang terus berjalan karena percaya pada masa depan. Selamat jalan sang maestro, selamat jalan kesederhanaan.

(1990)

Prev Next Next